Jangan Murtad Renungan Harian 26 Agustus 2019

26 August 2019

Bacaan : Ibrani 3 : 7 – 4 : 11 | Pujian : KJ 446 : 1, 2
Nats : “ Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup” (ayat 4)

Murtad dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya berbalik belakang, membuang iman, berganti menjadi ingkar. Dari pengertian ini jika penulis Ibrani menulis “Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup”. Artinya tidak lagi percaya kepada Allah. Ia berbalik belakang, ia membuang iman, ia ingkar dan percaya kepada keyakinan lain dan bukan percaya kepada Allah.

Penulis kitab Ibrani mengingatkan kepada para pembacanya bahwa Israel pernah murtad ketika ada pencobaan di padang gurun (ayat 9). Walaupun Allah memelihara, menyertai dan mengasihi mereka, tetapi bangsa Israel malah menyembah berhala. Allah memberi roti manna dan burung puyuh agar bangsa Israel bisa makan dengan kenyang dan tidak menderita kelaparan. Air yang keluar dari batu karang agar tidak kehausan. Mereka bisa menyeberangi laut Tiberau agar bangsa ini bisa masuk ke tanah perjanjian bisa menikmati susu dan madu. Dengan tindakan-tindakan ajaib Tuhan ini umat Israel diharapkan mengakui, percaya bahwa Allah adalah satu-satunya Allah yang patut dipuji dan disembah, namun yang terjadi bangsa ini sering tidak setia kepada Tuhan, mengingkari imannya, dan murtad.

Tuhan Yesus rela mati disalibkan untuk menebus dosa umat percaya. Barang siapa yang percaya padaNya tidak akan binasa melainkan memperoleh hidup kekal (Yoh 3:16). Nats ini adalah jaminan keselamatan. Walaupun jelas ada jaminan keselamatan tidak sedikit orang percaya yang murtad. Banyak godaan yang mempengaruhi seperti karena jabatan, karena pasangan hidup, karena pekerjaan, karena intimidasi, karena kepahitan hati. Apapun alasannya marilah kita bersatu hati untuk memelihara iman, dimulai dari keluarga. Keluarga adalah persemaian kasih, persemaian iman, orang tua hendaknya menjadi teladan iman yang nyata baik perilaku maupun tutur katanya. Sementara itu gereja memperkuat pengajaran iman melalui katekisasi pratama, madya dan remaja secara berkesinambungan. Hal ini membutuhkan komitmen pelayanan yang sungguh-sungguh, percayalah dengan pelayanan yang sungguh-sungguh anak cucu kita tidak akan murtad. (Jian)

Teladan baik, komitmen pelayanan serius tidak akan ada yang murtad

Renungan Harian

Renungan Harian Anak