Bacaan : Lukas 13 : 1 – 9 | Nyanyian : KJ 27
Nats : “Tidak! Kataku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” [ayat 5]
Ketika musibah atau bencana dialami oleh seseorang atau sebagian orang diwilayah tertentu , biasanya akan muncul prasangka buruk dari orang lain kenapa musibah itu bisa terjadi. Umumnya musibah selalu dihubungkan dengan dosa – dosa yang diperbuat, entah itu dosa seseorang, dosa masyarakat, bahkan ada yang menganggap dosa pemerintahan sehingga rakyatnya terkena bencana. Semakin banyak dosanya maka akan semakin besar musibah yang dialaminya. Seolah-olah musibah adalah hukuman yang Allah berikan. Apakah prasangka seperti ini benar? Dimana seharusnya rasa iba dan prihatin yang harus ditunjukkan di tengah musibah?.
Inilah yang ingin diluruskan oleh Tuhan Yesus. Musibah yang menimpa manusia bukanlah ukuran besar atau kecilnya dosa seseorang. Di hadapan Allah, semua orang tanpa terkecuali, baik yang terkena musibah maupun yang tidak terkena musibah adalah sama-sama manusia yang berdosa, yang pada akhirnya nanti menerima penghakiman dari Allah. Maka dari pada sibuk membandingkan diri dengan orang lain bahkan dengan orang yang terkena musibah, alangkah lebih baik jika kita memeriksa diri dan tidak mengeraskan hati di dalam dosa. Sebenarnya Allah sedang berkarya di dalam kehidupan kita. Sama seperti pohon ara yang diberi kesempatan untuk bisa berbuah, kitapun juga diberi kesempatan untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Allah masih memberi kita kesempatan untuk datang kepadaNya dengan penuh kerendahan hati dan bertobat.
Saatnya kita menunjukkan buah pertobatan. Menunjukkan cinta kasih Allah kepada keluarga, masyarakat, saudara sepelayanan, dan semua orang. Semua kita lakukan karena kita juga telah merasakan cinta kasihNya yang begitu luar biasa dalam hidup kita. Marilah kita lebih bijak menjalani kehidupan sebagai umat kepunyaan Tuhan selagi kesempatan itu masih ada. [M@ul]
Pertobatan adalah jalan menuju belas kasih Allah