Bacaan: Yeremia 36 : 1 – 10 | Pujian: KJ. 467 : 2,3
Nats: “… maka mereka masing-masing akan bertobat dari tingkah langkahnya yang jahat itu, sehingga Aku mengampuni kesalahan dan dosa mereka.” (Ayat 3b)
Semua orang pasti pernah merasakan mendapat sebuah teguran. Sejak kecil kita pasti pernah ditegur oleh orang tua, bahkan ketika sudah dewasa mungkin kita juga pernah mendapat teguran baik dari orang lain. Teguran erat kaitannya dengan perbuatan yang dianggap tidak seharusnya dilakukan. Namun menerima teguran bukanlah hal yang mudah, perasaan marah kadang muncul ketika seseorang mendapat teguran. Tetapi ketika seseorang mau memahami tujuan dan makna teguran tersebut, maka teguran itu akan membawa kebaikan bagi dirinya.
Firman Tuhan kepada Yeremia dalam bacaan kita hari ini berisi teguran Allah kepada bangsa Yehuda. Bangsa Yehuda ditegur Allah agar mereka bertobat dan tidak tertimpa malapetaka. Teguran ini merupakan wujud kepedulian Allah terhadap bangsa Yehuda. Di balik tingkah laku bangsa Yehuda yang jahat, Allah masih mencintai mereka dan ingin memulihkan kehidupan mereka. Teguran ini disampaikan oleh Barukh pembantu Yeremia yang setia kepada segenap rakyat (ay. 10). Barukh menyampaikan teguran ini dengan harapan bangsa Yehuda kembali kepada Tuhan Allah dan bertobat. Dengan demikian, Tuhan Allah mengampuni dosa mereka. Namun dalam cerita selanjutnya, teguran ini tidak dihiraukan oleh bangsa Yehuda. Gulungan kitab yang berisi firman Tuhan dibakar oleh Raja Yoyakim. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak mau lagi mendengar teguran Allah. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri. Pada akhirnya Tuhan Allah tidak memberi pengampunan dan menghukum Yehuda, Yerusalem jatuh ke tangan Nebukadnezar dan dibawa ke Babel sebagai tawanan.
Berkaca dari kisah ini, marilah kita belajar untuk mendengar dan memahami makna sebuah teguran, terlebih teguran dari Tuhan. Sebuah teguran dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik, karena melalui teguran itu, kita dididik untuk memperbaiki diri. Allah yang penuh kasih tidak selalu mewujudkan kasih-Nya dengan berkat dan hal-hal yang menyukacitakan saja, tetapi juga dapat melalui sebuah teguran yang akan memperbaiki dan memulihkan hidup semua ciptaan-Nya. Amin. [Kuh.C].
“Teguran dari Tuhan ibarat obat yang pahit tetapi menyembuhkan.”