Bersimpati Pancaran Air Hidup 24 Februari 2026

24 February 2026

Bacaan : Ibrani 4 : 14 – 5 : 10  |  Pujian : KJ. 338
Nats :
“Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai dalam segala hal, hanya saja Ia tidak berbuat dosa.” (Ayat 15)

Dalam sistem perkeretaapian terdapat berbagai macam semboyan yang digunakan untuk mengatur lalu lintas kereta api. Semboyan-semboyan ini biasanya ada yang berupa isyarat visual, seperti papan, lengan, dan lampu, dan ada yang berupa suara, seperti peluit atau klakson. Ada beberapa semboyan yang umum kita lihat ketika menaiki kereta api, yaitu semboyan 40, semboyan 41, dan semboyan 35. Semboyan 40, petugas PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api) memberikan tanda atau mengangkat papan hijau sebagai tanda bahwa jalur kereta api sudah aman dan siap dilewati. Semboyan 41, kondektur memberikan tanda dengan membunyikan peluit, menandai bahwa kereta api siap diberangkatkan. Sedangkan semboyan 35, masinis kereta api membunyikan klakson panjang sebagai penanda bahwa kereta siap berangkat. Para pekerja perkerataapaian bekerja dengan penuh kedisiplinan dan ketaatan supaya perjalanan kereta api menjadi aman dan nyaman.

Demikian juga Yesus yang hadir di dunia, Ia mendisiplinkan Diri-Nya untuk taat sekalipun statusnya adalah Anak Allah. Ayat 15 menyebutkan, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa”. Yesus menolak perlakuan khusus di dunia, justru Ia memilih jalan penderitaan bahkan disalibkan. Jalan salib itu memberikan rasa sakit, godaan, dan pencobaan. Disinilah keteguhan dan ketaatan Yesus akan kehendak Bapa, membuahkan keselamatan bagi manusia. Dialah “Sang Imam Besar” yang sesungguhnya, yang mau hadir dan merasakan kehidupan sebagai manusia.

Jika Tuhan Yesus mau merasakan dan memahami manusia, bagaimana dengan kita? Apakah kita juga mau merasakan dan memahami sesama kita? Melalui perenungan kita saat ini, kita diajak untuk bersimpati kepada sesama kita. Misalnya ada saudara atau teman kita yang mengalami kesedihan dan kesulitan, mari kita memberikan dukungan dan bantuan padanya. Tidak mudah manjadi orang yang bersimpati, kuncinya adalah kita mau melatih kepekaan diri kita terhadap orang lain, seperti yang diteladankan oleh Tuhan Yesus kepada kita, yang mau hadir dan merasakan kehidupan manusia di dunia. Maka masa pra paskah saat ini, menuntun kita untuk hidup dalam panggilan Tuhan, untuk hadir bagi sesama dengan bersimpati. Amin. [LEN]

“Bersimpati mendatangkan kekuatan bagi sesama.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak