Bacaan: Kejadian 33 : 1 – 17 | Pujian: KJ. 63 : 1, 2
Nats: “Tetapi, Esau berlari mendapatkan dia, mendekapnya, memeluk lehernya, lalu diciumnya dia. Mereka pun bertangis-tangisan.” (Ayat 4)
Dalam kehidupan ini, komunikasi adalah suatu hal yang penting. Menjadi penting karena kita adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan antara satu dengan yang lain. Supaya komunikasi dapat dilakukan dengan baik, beberapa cara dapat kita lakukan antara lain: mau merendahkan hati satu sama lain, berbicara dan mendengarkan, serta menghargai setiap pendapat yang disampaikan tanpa menyela. Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka relasi yang terbentuk adalah relasi yang baik dan saling membangun satu sama lain.
Relasi terjalin sepanjang sejarah hidup manusia, termasuk juga pada masa penulisan Alkitab. Ada berbagai jenis relasi di dunia ini. Termasuk relasi yang terjalin antar saudara, yaitu Esau dan Yakub. Relasi Esau dan Yakub sempat rusak ketika Yakub membohongi kakaknya Esau, Yakub sengaja menukar hak kesulungan dengan semangkuk kacang merah. Ketika Esau marah, Yakub berlari dari kakaknya sehingga rusaklah relasi persaudaraan mereka. Relasi yang rusak itu terus terjadi, sampai pada akhirnya Yakub dan Esau mau melepaskan gengsi dan ego masing-masing. Mereka mau merendahkan hati, meminta maaf dan memaafkan satu sama lain. Kesadaran Yakub akan kesalahannya menghadirkan sebuah upaya rekonsiliasi relasi di antara dirinya dan Esau kakaknya.
Dalam kehidupan ini, tidak jarang, cara berkomunikasi kita dengan orang lain tidak selalu berjalan dengan baik. Hal ini dapat memengaruhi relasi yang kita bangun berakhir buruk. Relasi kita dengan sesama juga memengaruhi relasi kita dengan Allah Sang Pencipta. Maka, seperti Esau dan Yakub yang mau melepaskan gengsi dan ego mereka masing-masing, mari kita juga melepaskan gengsi dan ego kita masing-masing dalam upaya membangun dan memperbaiki relasi yang ada. Relasi kita tidak hanya dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga dengan alam dan segala ciptaan Tuhan yang ada di sekitar kita. Merendahkan hati untuk bersedia berdamai dan memerhatikan sesama yang membutuhkan perhatian dan pertolongan serta berdamai dengan alam menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk memberi kita hidup. Dalam kesadaran itulah, mari kita terus merangkul sesama dan merawat kehidupan yang ada, karena kita semua adalah bagian dari keutuhan ciptaan Tuhan. Amin. [HADS].
“Merangkul sesama untuk merawat kehidupan.”