Bacaan: Kejadian 18 : 1 – 15 | Pujian: KJ. 71
Nats: “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN? Pada waktu yang telah ditetapkan itu, tahun depan, Aku akan kembali mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara mempunyai seorang anak laki-laki.” (Ayat 14)
Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita sudah seringkali menerima tamu. Biasanya jika memang berita menerima tamu itu sudah kita dengar jauh-jauh hari, maka seperti apa yang sering dilakukan orang Jawa pada umumnya pasti kita sebagai tuan dan nyonya rumah akan menyediakan dan mempersiapkan segala sesuatunya atau yang sering disebut dengan gupuh, lungguh, dan suguh. Hal ini pasti akan kita persiapkan dengan baik apabila memang ada waktu yang cukup untuk mempersiapkannya. Namun bagaimana jika tamu ini adalah tamu yang datangnya tiba-tiba? Apakah kita akan mempersiapkannya sebaik mungkin?
Dalam bacaan kita hari ini, kita dapat melihat bahwa sebagai tuan rumah, Abraham memiliki respon yang baik dalam menyambut tamunya. Meskipun terlihat mendadak dan tidak terencana, namun sebagai tuan rumah, Abraham nampak memiliki keramahan dan hospitalitas yang baik terhadap tamu yang datang padanya. Ia nampak menyambut dengan sangat baik dan bahkan melayani dengan pelayanan yang terbaik yang dapat ia berikan. Sikap hormat yang ditunjukkan Abraham menunjukkan ia sangat menyadari bahwa tamu yang ia sambut bukanlah tamu sembarangan. Hikmat dari Tuhan menuntunnya untuk mengetahui bahwa ia sedang menyambut Tuhan.
Sambutan Abraham tidak hanya menjadi sambutan yang biasa tetapi merupakan wujud penerimaan akan otoritas dan kuasa Allah meskipun Sara menilai itu sebagai hal yang mustahil. Yang harus kita yakini adalah ketika Allah sudah berjanji, maka Ia juga akan setia menyatakan kehendak-Nya. Maka sekarang marilah kita meyakini juga bahwa ketika kita mau berproses menyambut dan menantikan janji-Nya, maka Tuhan akan berkehendak pada waktu dan dengan cara-Nya. Amin. [ASN].
“Siapa bersedia menyambut janji-Nya, pasti akan menerima pada waktu-Nya dan dengan cara-Nya”