Tong Kosong Nyaring Bunyinya Pancaran Air Hidup 22 September 2022

Bacaan: 2 Korintus 8 : 8 – 15 | Pujian: KJ. 427
Nats:
“Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu.” (Ayat 8)

Ada peribahasa “Tong kosong, nyaring bunyinya” yang artinya seseorang yang hanya pandai berbicara, tetapi tidak ada wujud nyata dalam perbuatannya. Ungkapan peribahasa ini sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, untuk menegur seseorang yang hanya pandai berbicara dan berteori, tetapi tidak mampu melakukan sesuatu apapun untuk mewujudkan ucapan atau perkataannya itu. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah kisah anak-anak usia 3 tahun yang akan memasukkan persembahan saat ibadah minggu. Saat kantong persembahan diedarkan, anak-anak dengan sukacita dan antusias memasukkan persembahan ke kantong persembahan. Setelah memasukkan persembahan itu tampak rasa sukacita terpancar dari muka anak-anak. Mereka tidak banyak berkata-kata tentang persembahan saja, tetapi memberikannya dengan tulus dan sukacita.

Rasul Paulus melalui suratnya memberi nasihat kepada Jemaat di Korintus. Sebagai jemaat yang mempunyai banyak karunia dan potensi finansial, mereka diingatkan supaya tetap menjaga hidup dalam kesatuan hati dan peduli terhadap yang lain. Teks hari ini merupakan ajakan persuasif Paulus kepada Jemaat di Korintus untuk memberi dukungan dan bantuan kepada Jemaat di Yerusalem. Jika diungkapan dalam bahasa popular, “berkatmu banyak, jangan pelit, berilah sesuai dengan janji dan kemampuanmu.” Paulus tidak ingin melihat Jemaat Korintus jatuh pada janji kosong atau “tong kosong, nyaring bunyinya”, tetapi sebaliknya, mereka memiliki kasih yang tulus (Ay. 8).

Dalam hidup, secara umum manusia memang lebih banyak yang memilih menerima daripada memberi, karena tidak perlu repot berkorban untuk orang lain. Namun, pada dasarnya setiap orang juga senang menerima karunia atau anugerah dari Allah. Jika kita hitung berkat Tuhan dalam hidup, tentu begitu banyak berkat yang sudah Tuhan nyatakan. Oleh karena itu, Paulus mengajarkan kita untuk memilih memberi dan berbagi, sehingga kita menjadi berkat bagi sesama. Hal ini tentu senada dengan semangat dan terang Firman Tuhan dalam mewujudkan kasih dan berbagi kepada sesama dalam hidup. Mari kita kembangkan gaya hidup memberi dan berbagi, supaya kita sungguh menjadi berkat bagi orang lain dan bukan hanya berteori seperti “tong kosong, nyaring bunyinya”. Amin. [Kulz].

“Pemberian yang dilakukan karena iman dan keiklasan kasih tidak pernah sia-sia”

 

Bagikan Entri Ini: