Bacaan: Titus 1 : 5 – 16 | Pujian: KJ. 451
Nats: “yakni orang-orang yang tak bercacat, yang mempunyai hanya satu isteri, yang anak-anaknya beriman dan tidak dapat dituduh karena hidup tidak senonoh atau hidup tidak tertib.” (Ayat 6)
Kriteria apakah yang saudara miliki saat memilih seorang pemimpin? Memilih pemimpin yang “berkharisma” atau pemimpin yang “berkarakter”? Memilih seorang pemimpin tentu bukanlah perkara yang mudah dilakukan. Ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan agar pemimpin yang dipilih dapat benar-benar melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Hal ini perlu dilakukan karena menjadi seorang pemimpin bukan hanya soal jabatan atau kehormatan manusiawi, melainkan soal tanggung jawab moral dan rohani yang perlu diemban.
Surat Paulus kepada Titus bukan sekadar instruksi administratif, melainkan sebuah panduan untuk menjaga kemurnian gereja. Di pulau Kreta yang terkenal dengan karakter penduduknya yang kasar dan tidak jujur, Paulus memerintahkan Titus untuk menetapkan penatua-penatua agar memimpin di sana. Hal ini dilakukan karena kesehatan sebuah jemaat sangat bergantung pada kualitas para pemimpinnya. Bagi Paulus, sebelum melihat bagaimana seseorang memimpin di gereja, Paulus menekankan bagaimana ia memimpin keluarganya. Adapun, aspek-aspek yang perlu diperhatikan, antara lain: pertama, tak bercacat, bukan berarti seseorang harus sempurna tanpa dosa, tetapi tidak ada celah dalam dirinya yang dapat merusak reputasi Injil. Kedua, suami dari satu istri. Hal ini menunjukkan bahwa jika seseorang memiliki kesetiaan moral dan relasional dalam sebuah hubungan maka ia bisa dipercaya untuk memimpin jemaat. Ketiga, anak-anaknya hidup beriman. Jika seseorang dapat memimpin dan membimbing anak-anaknya dengan baik maka ia akan mampu menjadi teladan iman bagi orang lain.
Keluarga merupakan unit terkecil dalam sebuah hubungan relasional seseorang. Jika seseorang mampu memimpin keluarganya dengan baik maka ia diharapkan juga mampu untuk memimpin orang lain. Oleh karena itu, mari kita menjadi seorang pemimpin dimulai dari keluarga kita masing-masing. Mari kita menjadi teladan dalam kebaikan, kelemah- lembutan, dan kasih bagi keluarga kita maupun orang-orang di sekitar kita. Amin. [Wee].
“Ku mulai dari keluargaku, untuk melayani-Mu.”