Damai di Hati Pancaran Air Hidup 22 Mei 2022

22 May 2022

Bacaan: Yohanes 14 : 21 – 31 | Pujian: KJ. 335
Nats:
“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Ayat 27).

Dikisahkan seorang raja sedang mengadakan perlombaan melukis dengan tema ‘kedamaian’. Perlombaan itu diikuti oleh banyak seniman dan pelukis. Setelah waktu untuk melukis telah usai, sang raja memperhatikan tiap lukisan yang dihasilkan oleh peserta lomba. Tak lama kemudian sang raja mengambil 2 lukisan yang dianggapnya sesuai dengan tema lukisan. Sayangnya, pemenang perlombaan tersebut haruslah 1 lukisan sehingga sang raja harus memilih satu di antara keduanya. Lukisan pertama bergambar telaga yang tenang dan gunung-gunung yang hijau mengitari telaga itu. Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarakan. Lukisan kedua juga menggambarkan suasana pegunungan akan tetapi tampak gundul dan gersang. Di antara pepohonan cemara yang mulai gundul tampak seekor burung pipit berada dalam sarangnya sedang mendekap anak burung pipit yang baru menetas sambil mengerami telurnya. Ternyata sang raja justru memilih gambar lukisan yang kedua. Ia bergumam bahwa situasi alam yang tampak dalam gambar itu memang buruk, tak nyaman tetapi induk Pipit memenuhi segenap tanggung jawabnya dengan tetap mengerami telurnya hingga menetas. Bagi sang raja kedamaian bukan berarti harus berada di tempat yang nyaman tanpa keributan dan kesukaran. Kedamaian adalah tentang suasana hati dan pikiran yang tenang dan damai serta tidak dipengaruhi oleh keadaan di luar sana.

Tuhan Yesus menegaskan Ia memberikan damai-Nya kepada para murid-Nya dan kepada kita. Konteks percakapan perikop ini adalah Roh Penolong, yaitu Roh Kudus yang dicurahkan ke dalam hati manusia. Roh Kuduslah yang membawa damai bagi kita, damai di dalam hati. Sifat damai yang diberikan oleh Yesus tidak lazim seperti yang ada di dunia. Damai ini bekerja di dalam hati dan dimulai dari hati manusia. Damai yang diberikan oleh Yesus seharusnya mampu mengendalikan diri kita. Dan bentuk damai serta ketenangan yang sederhana ialah senyuman dan rasa syukur. Maka senantiasalah tersenyum dan bersyukur setiap hari sebagai bukti dan pantulan refleksi bahwa diri kita dikendalikan oleh damai yang diberikan oleh Yesus. Amin. [garlic]

“Bahagianya diri dimulai dari damainya hati.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak