Bacaan : Ibrani 8 : 1 – 13 | Pujian : KJ. 446
Nats: “Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua.” (Ay. 7)
Dalam liturgi kebaktian pemberkatakan perkawinan pasti ada bagian “Janji Mempelai”. Bagian ini merupakan kesempatan bagi kedua mempelai untuk menyatakan janjinya kepada pasangannya disaksikan oleh pendeta dan seluruh warga jemaat yang hadir. Dalam janji yang diucapkan itu masing-masing menyatakan akan tetap setia, bahkan sampai maut memisahkan. Jika dicermati lebih jauh sebenarnya janji yang diucapkan itu bukan janji kepada pasangannya saja, tetapi yang lebih utama adalah kepada Tuhan. Jadi masing-masing secara sadar membuat perjanjian dengan Tuhan dan dengan pasangannya. Perjanjian ini dimaksudkan untuk memperjelas relasi di antara dua pihak. Selain itu, perjanjian dimaksudkan untuk membangun kesetiaan di antara pihak-pihak terkait.
Bacaan hari ini juga berbicara tentang perjanjian yakni perjanjian antara Tuhan dan umat-Nya. Dalam perjanjian yang lama Tuhan Allah mengikat relasi dengan umat-Nya melalui hukum Taurat. Dengan harapan bahwa umat akan senantiasa setia kepada Tuhan, namun kenyataannya tidaklah demikian. Oleh sebab itu Tuhan kembali mengikat perjanjian yang baru dengan umat-Nya. Dalam Perjanjian yang baru, Tuhan Allah mengikat relasi dengan umat-Nya melalui iman kepada Tuhan Yesus. Artinya Tuhan ingin menegaskan bahwa beriman kepada Yesus merupakan satu-satunya jalan keselamatan. Sehingga beriman kepada Yesus berarti siap untuk setia kepada-Nya. Jika tidak setia maka bukan hanya perjanjian yang lama, bahkan perjanjian yang baru pun tidak bernilai lagi. Jika setia kepada Yesus, kita layak menerima keselamatan, karena Yesuslah satu-satunya jalan keselamatan itu. Keselamatan merupakan apa yang telah dan sedang dikerjakan Allah untuk membebaskan manusia dari dosa, penderitaan, kematian dan kuasa kejahatan.
Saat ini kita sedang mempersiapkan diri menyambut kelahiran Yesus di dunia dan di dalam hidup kita. Menyambut Yesus berarti menyambut sebuah perjanjian yang baru. Menyambut perjanjian baru berarti siap untuk setia, sama seperti Yesus yang telah setia kepada kita, demikian juga kita harus terus setia kepada-Nya. (TpJ).
“Siap berjanji berarti siap untuk setia! Sambutlah Dia Sang Perjanjian Baru dengan kesetiaan.”