Bacaan: Yohanes 6 : 60 – 69 | Pujian: KJ. 432
Nats: “Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?” (Ayat 61).
“Tidak perlu sesuatu yang bombastis, tidak perlu sesuatu yang besar, itu semua akan menjadi percuma jika hanya dilakukan sekali dan hanya saat itu! Lebih baik sesuatu yang kecil dan sederhana, namun bisa dihayati secara terus menerus dan rutin tanpa kehilangan maknanya, saya pikir itu akan menjadi lebih baik”, kurang lebih begitu wejangan pembimbing Vikar ketika saya belajar di salah satu jemaat di daerah Malang. Konsistensi sering dipandang sebagai sesuatu yang membosankan! Pandangan ini muncul karena konsistensi erat dengan rutinitas tanpa makna. Di sisi lain konsistensi menjadi suatu yang berat karena akan berhadapan dengan tantangan yang kecenderungan membawa orang untuk mencoba hal yang baru.
Yoh. 6:60-69 secara sederhana ingin mengupas perihal konsistensi! Setelah pengajaran yang panjang mengenai Roti Hidup (Yoh. 6:25-59), sebagian besar murid meninggalkan Yesus. Mengapa? Karena mereka merasa pengajaran dan pernyataan Yesus dirasa terlalu berat untuk dialami! Pengajaran yang tidak mudah untuk dipahami, sulit untuk ditangkap, dan tidak umum terjadi. Hal ini membuat mereka berpikir ulang untuk mengikut Dia. Yesus melihat saat inilah waktu yang tepat untuk memperdalam komitmen para murid, waktu yang tepat untuk ‘menantang’ para murid untuk mengambil sikap dan keputusan: memilih untuk meninggalkan-Nya atau tetap mengikut-Nya dengan segala konsekuensi yang ada.
Konsistensi dan keberlanjutan jawaban murid dari awal sampai akhir mengikut Yesus menjadi ukuran yang jelas bahwa mereka serius dengan iman mereka. Murid yang meninggalkan Yesus karena merasa pengajaran yang terlalu keras adalah cerminan bahwa cinta mereka sebenarnya bukan kepada Yesus, melainkan hanya kepada berkat Yesus. Konsistensi merupakan bagian dari pemeliharaan. Tindakan memelihara bukan hanya perkara jasmani, melainkan juga tindakan Ilahi yang senantiasa mendampingi. Memelihara merupakan keutamaan yang perlu dihayati secara terus menerus. Tanpa pemeliharaan, tentunya tidak ada keberlangsungan hidup. Wujud keseriusan dalam beriman adalah memelihara hidup bersama dengan Dia yang secara konsisten memelihara manusia. (gus).
“Konsistensi adalah pondasi kepercayaan yang sebenarnya.”