Berjuang untuk Perdamaian Pancaran Air Hidup 20 Oktober 2022

20 October 2022

Bacaan: 2 Timotius 3 : 1 – 9 | Pujian: KJ. 378
Nats:… mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik …” (Ayat 2-3).

Kata-kata Bung Karno yang sangat terkenal, “Bangunlah suatu dunia dimana semua bangsa dapat hidup dalam damai dan persaudaraan”. Pertanyaan kritis atasa pernyataan tersebut apakah setiap orang akan hidup damai setelah semua orang bersaudara? Tentu tidak. Dalam kenyataan hidup sehari-hari, mudah kita jumpai dua orang yang memiliki hubungan kekerabatan bisa bertengkar karena hal yang sepele. Belum lagi ada kejahatan, ketidakadilan, penindasan yang menyebabkan kekacauan dan peperangan. Maka kita sadar bahwa perdamaian adalah sebuah hal yang harus terus diupayakan dan diperjuangkan.

Paulus menasihati Timotius tentang tanda-tanda keadaan menjelang akhir jaman, dimana situasi menjelang akhir jaman itu sangat bertentangan dengan keadaan damai sejahtera yang dikehendaki Allah. Ini berarti tantangan Timotius sebagai pewarta Injil untuk mewujudkan damai sejahtera di bumi semakin berat. Dia bisa mengalami pertentangan, penderitaan, dan menghadapi kebebalan. Paulus menyebutkan keadaan akhir jaman ditandai dengan orang menjadi egois, hamba uang, pemberontak, sombong, pemfitnah (Ay. 2), tidak mengasihi, garang, tidak suka dengan yang baik, (Ay. 3). Orang-orang tersebut meskipun mendapat pengajaran tentang kebenaran, namun tidak pernah melakukannya (Ay. 7, 8). Dapat disimpulkan damai sejahtera adalah suatu hal yang sulit didapatkan menjelang akhir jaman.

Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menyerupai Kristus. Kita diajak seperti Paulus dan Timotius yang setia memberitakan karya Allah dalam Yesus melalui kasih, perdamaian, dan persaudaraan kepada semua orang. Dalam pewartaan tersebut kita diajak menyadari bahwa kita akan menemukan tantangan dan masalah. Disitulah kita harus tetap setia dan berkomitmen mewartakan kasih dan perdamaian. Komitmen inilah yang akan membentengi kita dan memotivasi kita ketika bertindak menjadi pembawa damai sejahtera, kerukunan dan menebarkan kasih persaudaraan. Meskipun situasi dan kondisi di sekitar kita semakin mendekati akhir jaman, mari kita sebagai utusan Kristus terus berusaha dan berjuang, karena kita dipanggil menjadi juru damai dimana pun kita berada. Amin. [BK].

“Berbahagialah engkau yang membawa damai karena engkau disebut anak-anak Allah.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak