Bacaan : Roma 2 : 17 – 29 | Pujian : KJ 427
Nats : “Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri?”.[ayat 21a]
Sebuah humor China menceritakan bahwa suatu kali ada seorang guru yang tertidur pada waktu mengajar dan dibangunkan oleh muridnya. Untuk menutupi rasa malunya, guru itu berkata, “Saya sedang bemeditasi dan berjumpa dengan Konfusius, Sang Suciwan Agung”. Keesokan harinya, sewaktu jam pelajaran, giliran muridnya yang jatuh tertidur. Sang guru yang menyaksikan hal itu membangunkan dan memarahi murid tersebut, “Betapa beraninya engkau tidur saat pelajaran.” Si murid yang cerdik itu kemudian menjawab, “Saya baru saja berjumpa dengan Sang Suciwan, Guru.” Guru bertanya, “Lalu apa yang dikatakan Beliau?” Murid menjawab, “Beliau berkata bahwa ia tidak berjumpa dengan anda kemarin.” (Sumber: An Anthology of Chinese Humour, halaman 18).
Cerita di atas adalah sebuah contoh bahwa begitu mudahnya kita mengatakan sesuatu namun apa yang kita katakan tersebut jauh panggang dari api. Atau biasa disebut “gajah diblangkoni – iso kojah ora iso nglakoni” (bisa bicara tetapi tidak bisa menjalani).
Rasul Paulus juga mengkritik dengan sangat keras orang Yahudi, yang sebenarnya adalah orang-orang pilihan Allah, tetapi ternyata gagal menjadi contoh dan teladan bagi dunia. Bahkan karena ulah merekalah maka nama Allah dihujat di antara bangsa-bangsa.
Sebagai orang kristiani, kita juga dituntut untuk “tidak hanya bicara”, tetapi “menjalankan ucapan kita” sehingga tingkah laku kita tidak bertentangan dengan iman yang kita percayai. Karena kalau demikian maka ketidakselarasan itu akan menghapuskan kesaksian Injil yang kita sampaikan. Penjelasan yang paling jelas sekalipun, tidak akan memenangkan hati yang mendengarnya bagi Tuhan, bila kasih-Nya tidak menyatu dalam keseharian hidup kita. Lalu, bagaimana dengan diri kita? Apakah kita hanya jago dalam perkataan tapi tidak disertai dengan tindakan nyata? Ibadah ritual yang khusyuk di tempat ibadah seharusnya menjadi nyata dalam perilaku hidup kita sehari-hari. [RS]
“Allah menghendaki kita untuk tidak berpura-pura”