Bacaan : Lukas 8 : 4 – 10 I Pujian : KJ. 335 : 1, 2
Nats: “…. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di tanah yang baik,dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” (ayat 5 dan 8)
Memahami dari perspektif lain mengenai perumpamaan seorang penabur, akan menjadi tantangan bagi kita ketika kita menempatkan diri sebagai penabur itu. Ah ya, mengapa bisa ada benih yang jatuh di pinggir jalan, jatuh di tanah berbatu, jatuh di semak berduri? Bukankah benih itu akan tumbuh baik jika penabur dengan hati-hati membawanya hanya di tanah yang baik? Kalau penabur membawa benih-benih itu dengan sembarangan, itulah yang menyebabkan benih-benih terjatuh bukan hanya di tanah yang baik.
Ya, jika orangtua adalah seorang penabur dan anak-anak adalah benih-benih itu, maka setiap orang tua perlu untuk berhati-hati membawa anak-anak untuk sampai hanya di tanah yang baik. Ini berarti orangtua perlu berhati-hati untuk mengantarkan anak melalui teladan sikap iman yang baik, membawa anak pada pendidikan karakter yang baik, dan mengajar anak untuk mampu mengambil keputusan hidup yang baik.
Setiap orangtua pastilah berusaha mengantar anak-anak hanya di tanah yang baik. Namun tidak mudah untuk menjadi orangtua yang punya tugas menaburkan benih-benih baik dalam kehidupan anak-anak. Sebab dalam perjalanan kehidupan orangtua bersama anak-anak, mungkin saja ada pengalaman kehidupan yang membuat orangtua tidak sengaja membuat anak jadi ‘terjatuh’ bukan di tanah yang baik. Inilah saatnya orangtua memahami bahwa orangtua tidak pernah sendirian untuk mengerjakan tugas mengantarkan para benih itu (anak-anak) hanya ke tanah yang baik. Kehadiran Sang Kristus di tengah keluarga akan membawa keselamatan di dalam keluarga, bagi anak-anak kita. Maka pola asuh kepada anak-anak perlu secara utuh dan penuh melibatkan Tuhan Yesus. Tidak ada rumus pola asuh yang paling ampuh. Tidak ada kamus pengasuhan bagi anak-anak. Tetapi setiap orangtua bebas untuk memohon hikmat dari Sang Kristus, agar setiap perjalanan pengasuhan bagi anak-anak kita hanya akan membawa mereka ke tanah yang baik. (Rihand)
“Ketika anak-anak menyadari bahwa mereka dicintai oleh orangtuanya, di sanalah anak seperti benih yang sedang berada di tanah yang baik”