Egois Pancaran Air Hidup 20 Agustus 2021

20 August 2021

Bacaan: Yosua 22 : 10 – 20 | Pujian: KJ. 178
Nats: ‘’Ketika Akhan bin Zerah berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan, bukankah segenap umat Israel kena murka? Bukan orang itu saja yang mati karena dosanya.’’ (Ayat 20).

Kata egois berasal dari bahasa Yunani “ego”: saya atau aku. Sehingga kata egois berarti berpusat pada dhiri sendhiri, mementingkan dhiri sendhiri. Orang yang egois tidak akan peduli dengan kepentingan orang lain selama kepentingannya bisa terwujud. Ada banyak sikap yang menunjukkan sikap egois seseorang, misalnya: menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya tersebut, walaupun harus mengorbankan orang lain.

Bacaan hari ini bercerita tentang bani Gad, bani Ruben, dan suku Manasye yang mendhirikan mezbahnya sendhiri. Mezbah yang sangat besar dan menghadap ke tanah Kanaan. Melakukan hal tersebut sama saja dengan memberontak kepada Allah, karena mereka hanya boleh mendhirikan mezbah, membawa korban persembahan ke tempat yang dipilih oleh Tuhan (Ul. 12:5-6). Perintah ini dan segala konsekuensinya sudah mereka ketahui tetapi mereka masih melanggarnya. Mereka pernah mengalami hukuman Tuhan saat mereka memberontak di Peor, dengan cara menduakan Tuhan dan menyembah Baal-Peor (Bil. 25). Mereka juga pernah mengalami hukuman Tuhan saat Akhan bin Zerah dari suku Yehuda mengambil barang-barang yang dikhususkan (Yos. 6:18-19, 7). Karena keegoisan dari beberapa orang mengorbankan begitu banyak pihak yang belum tentu bersalah.

Dalam kehidupan sekarang ada banyak sikap egois yang terjadi bahkan di kalangan orang Kristen. Contohnya: Semakin banyak orang yang tidak peduli terhadap penderitaan orang lain, menghalalkan segala cara untuk mencapai kepentingan dan memenuhi kebutuhannya. Tidak mau menerima pendapat orang lain, gampang meremehkan orang lain, apalagi jika orang tersebut dipandang tidak lebih darinya. Tidak siap menerima perbedaan dalam satu komunitas, merasa dhiri paling benar, dan masih banyak contoh yang lain. Sikap egois hanya akan menimbulkan permusuhan dan perpecahan, sedangkan sebagai mahkluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendhiri melainkan saling membutuhkan satu sama lain. Karena itu, para pengikut Kristus diharapkan hadir sebagai pemersatu dan sekaligus menjadi pembawa damai bagi orang lain di manapun dia berada. Dengan demikian bukan hanya menguntungkan dhirinya sendhiri tapi juga membawa dampak yang baik bagi orang lain serta mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan. (eS).

 “Sikap egois itu merugikan”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak