Semauku Aja! Renungan Harian 20 Agustus 2019

20 August 2019

Bacaan : Kisah Para Rasul 7 : 44 – 53   I  Pujian :  KJ. 364 : 1, 2
Nats: “Kamu telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat,akan tetapi kamu tidak menurutinya.” (ayat 53)

Paling menyenangkan adalah menjadi diri sendiri. Bebas melakukan apa saja. Bebas menentukan pilihan. Bebas menyelaraskan antara pikiran dan hati. Apa saja yang terjadi di dalam diri sendiri tidak mau ditentukan oleh orang di luar dirinya. Wah, itu sangat menyenangkan. Namun perlu tenang sejenak untuk memahami: “Apakah yang aku pikirkan dan rasakan sudah benar-benar bersumber dari hukum Tuhan?”

Kisah Para Rasul 7:44-53 mendampingi kita untuk memahami bahwa meski kita bisa untuk memutuskan apa saja yang ada dalam hidup kita, namun kita perlu memperhatikan pondasi iman kita: tunduk kepada Roh Kudus (ayat 51). Tunduk kepada Roh Kudus adalah memunculkan pikiran-pikiran yang berdasarkan kebenaran firman Tuhan, merasa-rasakan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Sehingga ketika pikiran dan perasaan bertumbuh dalam pondasi kekuatan Roh Kudus, di sanalah kita akan dimampukan untuk ‘Semauku Saja’ tapi dalam kebenaran yang mendatangkan berkat bagi sesama.

Membangun diri dalam kasih menuju kemandiran dan menjadi berkat adalah sebuah ajakan bagi setiap kita untuk dapat membangun diri yang mandiri dan kemandirian itu juga bisa menjadi berkat. Termasuk kemandirian membangun karakter diri. Memiliki karakter diri yang mandiri mengajak kita semua untuk membangunnya di atas kebenaran firman Tuhan.  Memikirkan, menyimpan dalam hati, mengatakan, dan melakukan semua hal yang sesuai dengan firman Tuhan adalah sebuah upaya untuk dapat punya karakter diri yang mandiri dan menjadi berkat bagi sesama. Maka, sederhana saja, ketika seseorang menyatakan diri mengikut Tuhan Yesus, maka seharusnya: pikirannya adalah pikiran yang menjadi berkat, perasaannya adalah rasa yang menjadi berkat, perkataannya adalah perkataan yang menjadi berkat, dan perbuatannya adalah perbuatan yang menjadi berkat. Sehingga meskipun kita melakukan segala sesuatu dengan ‘semauku aja’, tapi ketika semua hal di dalam diri kita terus menerus melibatkan Tuhan, maka ‘semauku aja’ itu, bisa juga mendatangkan berkat bagi sesama. (Rihand)

“Kita bisa menjadi semua karakter yang diinginkan, tapi kita perlu pulang ke karakter diri sendiri: Karakter dengan pondasi Firman Tuhan”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak