Umatku Melupakan Aku Pancaran Air Hidup 2 Oktober 2026

2 October 2026

Bacaan: Yeremia 2 : 23 – 37  |  Pujian: PKJ. 154
Nats: “Namun umat-Ku telah melupakan Aku, tak terhitung lagi lamanya.” (Ayat 32b)

Pernahkah kita mengingat seseorang hanya pada saat kita butuh dia? Saat hari terasa berat, kita mencarinya. Saat hati terasa kosong, kita menghubunginya. Tetapi ketika semuanya kembali baik-baik saja, perlahan kita menjauh. Bukan membenci, mungkin karena kita merasa tidak memerlukannya lagi. Tanpa sadar, pola ini juga terjadi dalam hubungan kita dengan Tuhan.

Dalam Yeremia 2:23–37, Tuhan melihat umat Israel yang berjalan menjauh dari pada-Nya. Mereka mencari yang lain, menggantungkan hidup pada hal-hal lain yang bukan Tuhan. Seolah-olah mereka mampu berjalan sendiri. Seolah-olah mereka tidak lagi membutuhkan Tuhan Allah dalam hidup mereka. Namun pada saat kesulitan datang, mereka berseru, “Bangunlah dan tolonglah kami!” (Ay. 27b). Pada saat yang sama, Tuhan menyatakan, “Umat-Ku melupakan Aku …” (Ay. 32b). Ungkapan ini menunjukkan bukan sekadar pelanggaran, melainkan relasi yang retak, sebuah hati yang pernah dekat, namun kini berpaling. Apakah kita pernah seperti itu?

Kita mungkin tidak menyembah berhala seperti Israel, tetapi ada hal lain yang kita jadikan tempat bergantung selain Allah, yaitu kekuatan diri kita sendiri, rencana yang kita susun dengan rapi, orang-orang yang kita harapkan selalu ada. Lalu ketika semuanya telah pergi, barulah kita kembali mencari Tuhan. Seolah-olah Tuhan adalah tempat terakhir, bukan yang pertama. Padahal sejak awal, Tuhan tidak pernah pergi. Hanya saja, mungkin kita yang pelan-pelan berjalan menjauh tanpa benar-benar sadar. “Umat-Ku melupakan Aku.”

Hari ini, mungkin kita tidak sedang berada dalam keadaan sulit. Mungkin semuanya terasa baik-baik saja. Dan justru di situlah pertanyaannya, “Apakah kita masih mengingat Tuhan, bahkan saat kita tidak sedang membutuhkan apa-apa?” Atau jangan-jangan kita hanya kembali kepada-Nya ketika kita sedang menghadapi masalah hidup. Tuhan tidak menunggu kita datang kepada-Nya dalam keadaan sempurna.  Dia rindu, tidak hanya dicari saat kita terluka, melainkan juga diingat dalam setiap keadaan hidup kita bahkan saat hidup kita terasa baik-baik saja. Mari kita terus mengingat Tuhan Sang Sumber Kekuatan dan Penolong hidup kita dan jangan pernah melupakan-Nya. Amin. [MEA].

“Jangan sampai kita hanya mencari Tuhan dalam luka, tetapi melupakan-Nya dalam keadaan baik-baik saja.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak