Ewuh Pakewuh Pancaran Air Hidup 2 November 2026

2 November 2026

Bacaan: Yeremia 5 : 18 – 31  |  Pujian: PKJ. 279
Nats:  “Tidak takutkah kamu kepada-Ku? Demikianlah firman TUHAN. Tidak gemetarkah kamu terhadap Aku? … bangsa ini mempunyai hati yang selalu melawan dan memberontak; mereka telah menyimpang dan hengkang.” (Ayat 22a; 23)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada situasi yang membuat kita merasa ewuh pakewuh. Tidak enak hati untuk menegur, sungkan untuk berkata jujur, atau memilih diam demi menjaga perasaan dan keharmonisan. Misalnya, ketika kita melihat sesuatu yang tidak benar—entah dalam keluarga, lingkungan kerja, atau pertemanan—kita sebenarnya tahu itu salah namun karena tidak ingin menyinggung atau menimbulkan konflik, kita memilih untuk diam.

Bacaan firman Tuhan pada saat ini, Yeremia 5:18–31 mengisahkan Tuhan menegur umat-Nya yang telah kehilangan kepekaan rohani. Secara khusus pada ayat 22–23, Tuhan berkata bahwa umat-Nya tidak lagi takut kepada-Nya, padahal Dialah yang berkuasa atas alam semesta (Ay. 22). Sebaliknya, mereka digambarkan sebagai bangsa yang keras kepala dan pemberontak, yang memilih untuk menjauh (Ay. 23). Teguran ini bukan hanya tentang pelanggaran hukum, tetapi juga tentang hati yang tidak lagi menaruh hormat dan takut kepada Tuhan.

Apakah kita berada di posisi yang sama? Kita sering kali berhati-hati menjaga perasaan sesama manusia tetapi kurang peka terhadap suara Tuhan. Kita tahu apa yang benar, tetapi hanya menyimpannya di dalam hati. Kita memilih diam bukan karena tidak tahu, melainkan karena takut. Dalam keadaan seperti ini, tanpa sadar kita menempatkan rasa takut kepada manusia lebih tinggi daripada takut akan Tuhan. Budaya ewuh pakewuh mengajarkan kita untuk menghargai orang lain dan menjaga hubungan. Namun, ketika kita mengabaikan kebenaran, di situlah kita perlu berhenti dan bertanya, “Kepada siapa sebenarnya kita lebih takut? Kepada manusia ataukah kepada Tuhan yang memanggil kita untuk hidup dalam kebenaran?” Hari ini, kita diajak untuk mendengar suara Tuhan. Bukan untuk menjadi kasar atau menyakiti, tetapi untuk tetap setia pada kebenaran yang Tuhan ajarkan, untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Amin. [MEA].

“Karena takut akan Tuhan bukan cuma tentang apa yang kita rasakan, tetapi tentang apakah kita berani hidup sesuai dengan itu, meskipun tidak selalu nyaman.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak