Sejarah Ditulis Oleh Pemenang? Pancaran Air Hidup 18 September 2026

18 September 2026

Bacaan: Nahum 2 : 3 – 13  |  Pujian: KJ. 414
Nats: “Tandus, ketandusan dan pemusnahan! Hati menjadi kecut dan lutut goyah! Seluruh pinggang kejang-kejang, dan muka sekalian orang pucat pasi. (Ayat 10)

Ungkapan “sejarah ditulis oleh pemenang” sering kita dengar sebagai kritik tajam terhadap cara manusia merekam masa lalu. Banyak dokumen sejarah lahir bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk mengamankan kekuasaan. Yang kalah dibungkam, kemudian terlupakan, dan fakta dipoles agar yang berkuasa tampak mulia. Sejarah menjadi alat legitimasi, bukan cermin kejujuran. Dalam logika seperti ini, kebenaran sering dikorbankan demi citra dan kepentingan penguasa. Itulah sisi gelap penulisan sejarah manusia.

Bacaan dari Nahum 2:3–13 membawa kita pada gambaran kehancuran Niniwe, kota besar yang selama ini menindas bangsa-bangsa lain. Gambaran kereta perang, perisai, pedang, dan darah terasa keras dan mengganggu, terlebih bila dibaca dengan kaca mata moralitas modern yang memandang setiap perang sebagai kejahatan. Dan memang benar, perang pada dirinya adalah luka bagi kemanusiaan. Alkitab tidak menutupi kenyataan pahit itu. Justru di sinilah kejujuran Alkitab tampak. Nahum tidak menulis kisah ini untuk memuliakan kekerasan atau mengagungkan pemenang, tetapi untuk menyatakan keadilan Allah atas kesombongan dan penindasan yang terlalu lama dibiarkan. Nahum bukanlah nabi yang tinggal dan berelasi dengan bangsawan kerajaan. Ia tidak menulis dari istana, ia tidak membela penguasa. Ia berdiri sebagai nabi yang berani menyuarakan kebenaran iman. Niniwe yang selama ini tampak tak terkalahkan, dalam nubuatan ini, Niniwe digambarkan runtuh. Hanya ada kengerian kota yang gagal dalam berperang, tidak ada upaya memperhalus kenyataan. Yang ada adalah pengakuan jujur bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kekerasan dan keserakahan pasti berhadapan dengan keadilan Tuhan.

Di sinilah Alkitab berbeda dari banyak dokumen sejarah manusia. Alkitab bukan catatan yang ditulis oleh pemenang untuk membenarkan diri, melainkan kesaksian iman yang berani jujur tentang dosa, kekerasan, kegagalan, sekaligus pengharapan. Kita boleh bangga dan bersyukur karena dipercaya Tuhan untuk menerima Alkitab sebagai pedoman tertulis bagi kehidupan iman kita. Di dalamnya kita belajar bahwa kebenaran tidak selalu nyaman, tetapi selalu memerdekakan. Alkitab mengajar kita berjalan bukan menurut logika kuasa, melainkan menurut kejujuran iman di hadapan Allah. Amin. [YOPI].

“Penguasa boleh menuliskan sejarah sesuai keinginannya namun keadilan Allah tetap berdaulat di atasnya.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak