Musim Gugur Renungan Harian 18 September 2019

Bacaan : Lukas 22 : 31 – 33 , 54 – 62   |  Pujian :  KJ.  331 : 1
Nats:
“… Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. ” (Lukas 22:32)

Beberapa negara yang memiliki musim gugur menjadi negara yang dicari para wisatawan untuk dikunjungi. Ya, memang musim gugur menjadi pemandangan yang indah. Tapi bagaimana jika sikap beriman yang mengalami musim gugur?

Inilah kondisi yang diamati oleh Tuhan Yesus dari para murid-Nya. Menjelang penangkapan Tuhan Yesus untuk disalibkan dan menebus dosa manusia, Tuhan Yesus tidak ingin para murid kehilangan imannya karena diperhadapkan pada situasi menakutkan. Karena itulah Tuhan Yesus mendoakan para murid supaya imannya tidak gugur. Tuhan Yesus sangat mengenal Petrus yang mudah gentar hatinya. Itu sebabnya Tuhan Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa Ia secara khusus mendoakan Petrus supaya imannya tidak gugur. Meskipun demikian, ketika Tuhan Yesus ditangkap, akhirnya iman Petrus pun gugur. Petrus menyangkal Tuhan Yesus tanpa ia sadari. Barulah penyangkalan yang ketiga disadari petrus bahwa imannya benar-benar gugur.

Musim gugur iman sudah terjadi ketika zaman kehidupan para murid Tuhan Yesus. Musim gugur itupun terjadi dalam kehidupan bergereja saat ini. Banyak jemaat yang hidup bergereja, rutin beribadah tetapi sikap hidupnya mengalami keguguran iman. Mudah berkomentar menghakimi di sosial media, mudah menghujat sesamanya lewat tulisan-tulisan di sosial media, bahkan mudah menganggap diri sendiri paling benar adalah tanda-tanda musim gugur dalam kekristenan. Karena tidak jarang, komentar jahat di sosial media pun dilakukan oleh orang-orang yang menyatakan diri beriman kepada Tuhan Yesus. Musim gugur ini pun mulai menjadi tren di tengah kehidupan bergereja. Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita pun mau ikut-ikutan menikmati musim gugur iman semacam ini? (Rihand)

“Meski daun berguguran, tapi imanku pada-Mu tak akan pernah gugur”

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •