Bacaan: Mazmur 121 : 1 – 8 | Pujian: KJ. 256
Nats: “TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.” (Ayat 8)
Hujan deras datang tiba-tiba, memaksa siapa saja di jalan untuk berhenti sejenak dan mencari tempat berteduh. Di depan sebuah toko kecil yang tutup, beberapa orang berdiri bersama tanpa saling kenal. Ada pengemudi ojek yang menggigil kedinginan, pelajar yang menutup tasnya dengan jaket, penjual kopi keliling yang menunggu hujan reda, dan pekerja kantoran yang sesekali melirik layar ponselnya. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, namun ada bersama di bawah atap toko itu. Mereka berbagi ruang dan tujuan yang sama, yaitu melindungi diri dari hujan dan dingin. Tidak ada pembatas, tidak ada syarat, hanya kebutuhan mendasar yang menyatukan mereka dalam keheningan yang sederhana.
Mazmur 121 menggambarkan keyakinan kuat bahwa pertolongan sejati datang dari Tuhan, Pencipta Langit dan Bumi, yang tak pernah berhenti menjaga manusia dalam setiap langkah hidupnya. Penjagaan Tuhan itu melampaui batasan – wilayah, agama, dan tradisi – mengawasi dan memelihara tanpa henti. Hal ini mengingatkan bahwa iman bukanlah perjalanan yang harus dijalani sendiri-sendiri, namun dalam kebersamaan yang saling menghormati dan memperkuat satu sama lain.
Dalam konteks ini, ekumene muncul bukan sebagai tuntutan keseragaman, melainkan sebagai pengakuan bahwa kasih Tuhan merangkul seluruh perbedaan. Perbedaan itu bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang mendorong untuk berjalan bersama dalam karya kasih yang nyata. Di tengah dunia yang penuh luka, perpecahan, dan ketidakpastian, pemeliharaan Tuhan membuka ruang damai yang mengundang setiap orang untuk bersatu dalam kasih, karena bersama dalam keragaman jauh lebih kuat daripada berjalan sendiri dalam kecurigaan dan ketakutan. Kehadiran Tuhan sebagai penjaga yang tak pernah lelah, mengingatkan kita bahwa setiap perjalanan hidup kita selalu berada dalam pelukan kasih-Nya yang menyatukan, menguatkan, dan melindungi kita tanpa memandang perbedaan. Dari sinilah lahir panggilan untuk hidup bersama dalam semangat ekumene, berjalan berdampingan dalam perbedaan, saling menghormati, dan bergandengan membangun damai yang nyata, karena dalam kebersamaan itulah kekuatan sejati ditemukan, melampaui segala batas dan ketakutan yang memisahkan. Amin. [ven].
“If we have no peace, it is because we have forgotten that we belong to each other.” – Mother Teresa