Bacaan: Imamat 19 : 9 – 18 | Pujian: KJ. 432 : 1
Nats: “Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing: Akulah TUHAN, Allahmu.” (Ayat 10)
“Pak Ndhita, apakah pelayanan kesehatan bagi umum yang dilakukan oleh jemaat kita tetap bisa berjalan di dalam masa pandemi ini? Mengingat masa pandemi juga membuat gereja kita seakan-akan “susah” dalam hal keuangannya.” Sebuah pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang warga jemaat kepada Pendetanya di dalam jagongan ringan malam itu. Pertanyaan yang cukup membuat kita terkesiap untuk menggumulkan dan merenungkan, “Seberapa besar wujud pelayanan yang bisa kita lakukan sebagai orang beriman dan Jemaat kepada orang-orang yang berada di sekitar kita? Apakah kita sungguh-sungguh telah menjadi berkat bagi orang yang berbeda iman? Ataukah pelayanan cinta kasih yang kita lakukan hanya berada di dalam tembok yang melingkupi kelompok kita saja? Atau malah dengan keadaan pandemi yang mendatangkan kesusahan bagi semua, kita berhenti untuk melayankan pelayanan cinta kasih?”
Bacaan kita pada saat ini menunjukkan bahwa sejak jaman Israel, telah ada aturan-aturan sosial dan agama yang dibuat untuk mewujudkan keteraturan hidup umat Tuhan. Aturan-aturan ini bukan hanya semata-mata menunjukkan Tuhan Allah mengkehendaki ketertiban hidup umat-Nya, tetapi juga menunjukkan bagaimana ketaatan dan rasa syukur umat Israel atas relasi yang dibangun dengan Tuhan Allah yang telah membebaskan mereka dari tanah Mesir. Aturan-aturan tersebut rupanya tidak hanya mengatur ketertiban hidup umat Israel saja, tetapi juga memberikan perhatian kepada kesejahteraan orang miskin dan orang asing yang tinggal di tengah umat Israel.
Seperti halnya yang menjadi nats kita pada hari ini. Berkat pemeliharaan Tuhan tidak hanya tersedia bagi umat Israel saja, tetapi juga bagi suku bangsa lain di tengah umat Israel. Inilah mendasari sikap keramahtamahan kita sebagai umat Tuhan kepada sesama di sekitar yang membutuhkan bantuan dan pertolongan kita. Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk menunda pelayanan bagi sesama. Pandemi memang belum berakhir, demikian pula masih banyak saudara di sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan kita. Mari bersama kita bersatu hati untuk mau berbagi dan peduli kepada sesama kita. Amin. [TPP].
“Memberikan perhatian adalah langkah awal menjadi saluran berkat bagi sesama.”