Bersaksi karena Mengalami Pancaran Air Hidup 18 Juni 2022

Bacaan: Mazmur 22 : 20 – 29 | Pujian: KJ. 427 : 1
Nats: “Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah.” (Ayat 23).

Sudah sangat lumrah bila penjual obat berusaha meyakinkan sedemikian rupa kepada calon pembelinya atas kemanjuran obatnya. Tidak jarang juga para penjual obat tersebut menyertakan testimoni dari orang-orang yang telah sembuh karena obat yang mereka jual. Ya, hanya orang-orang yang sudah mencoba dan merasakan manfaat obat itulah yang testimoninya layak untuk dipercaya. Bilamana testimoni itu datang dari orang yang belum pernah merasakan manfaat atau bahkan mencoba obat tersebut? Maka cerita mereka hanyalah menjadi bualan belaka. Demikian jugalah kita di dalam menjalankan tugas dan panggilan kita sebagai orang beriman untuk mewartakan cinta kasih Allah kepada dunia, untuk mewartakan siapa Allah yang kita sembah kepada dunia. Sangatlah tidak elok bila kesaksian-kesaksian itu muncul dari pengalaman kosong belaka. Kesaksian-kesaksian kita harus dari pengalaman-pengalaman pribadi yang jujur dan tulus. Kesaksian yang berbobot, meyakinkan, dan membawa dampak yang baik bagi orang yang mendengarkannya. 

Sama seperti yang diungkapkan Pemazmur dalam Mazmurnya yang menjadi bacaan kita pada saat ini. Sikap dan respon Pemazmur yang bermuara pada “Memasyhurkan dan memuji Allah” tidak berangkat dari pengalaman yang kosong, tetapi berangkat dari pengalaman Pemazmur pribadi yang berada dalam himpitan. Ia sungguh merasakan datangnya pertolongan tangan kasih Tuhan atas hidupnya. Itulah yang membuat Pemazmur memasyhurkan dan memuji Allah di tengah-tengah Jemaah.

Bersaksi bukanlah tugas yang sepele. Bersaksi adalah tugas panggilan setiap orang percaya di dalam perjalanan hidupnya. Saat kita hendak bersaksi tentang cinta kasih Tuhan, maka kesaksian kita haruslah berangkat dari pengalaman hidup kita yang merasakan cinta kasih Tuhan di dalam kehidupan kita. Sama seperti yang dialami oleh Pemazmur, kesaksian kita tidak boleh menjadi kesaksian yang kosong dan mengada-ada. Untuk itu, marilah kita sungguh-sungguh menghayati pengalaman hidup sehari-hari bersama dengan Tuhan, yang menjadi dasar bagi kita untuk bersaksi. Amin. [TPP].

“Pengalaman hidup bersama dengan Tuhan adalah bahan bakar kesaksian yang sejati.”

 

Bagikan Entri Ini: