Sarana Berkat Allah : Benarkah? Pancaran Air Hidup 18 Juni 2020

18 June 2020

Bacaan : Ibrani 2 : 5 – 9   |  Pujian :  KJ. 235
Nats
: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Ay. 6)

“Nak ayo bantu bapak membersihkan selokan depan rumah, karena musim hujan sudah mulai datang!” ucap seorang bapak kepada anaknya yang masih kecil. “Lha memangnya kenapa pak, kok harus dibersihkan?” tanya sang anak. “Selokan itu kan saluran air, nah jika sampah-sampah tidak dibersihkan nanti airnya tidak bisa mengalir dan menjadikan air luber kemana-mana”. Itulah gambaran kehidupan manusia yang pada awalnya diciptakan sebagai rekan sekerja Allah yang menjadi sarana berkatNya, akan tetapi saat ini kebanyakan identitas yang demikian perlahan mulai pudar karena tumpukan sampah yang ada dalam kehidupan menjadikan berkat menjadi mampet.

Berbicara masalah identitas manusia, mari sejenak melihat tulisan Ibrani 2:5-9. Sebagian tulisan ibrani ini merupakan kutipan dari Maz. 8: 4-6. Mazmur ini merupakan puisi yang berisi pujian tentang kemuliaan manusia seperti yang dimaksudkan oleh Allah – nampaknya Mazmur ini merupakan perwujudan janji Allah ketika menciptakan alam semesta yang menempatkan manusia sebagai gambar Allah yang “memelihara” ciptaan yang lain.

Namun, tulisan Ibrani memaparkan sesuatu yang berbanding terbalik – hal ini dilihat oleh penulis Ibrani karena keadaan yang mereka alami berbeda dengan apa yang menjadi harapan penciptaan pada mulanya. Manusia yang diharapkan untuk memelihara ciptaan, malah jatuh dalam keadaan frustasi, dibelenggu oleh kelemahannya sendiri – seakan menusia dipenjara oleh keadaan. Penulis Kitab Ibrani menghayati bahwa dalam kondisi itu,Yesus datang untuk ‘mengembalikan’ hakikat manusia pada mulanya – menjadikan manusia sebagai makhluk yang dikehendaki Allah pada waktu penciptaan, asalkan mereka berkenan untuk menerima Kristus dalam hidup mereka.

Pada tantangan era saat ini, dengan perubahan zaman yang begitu cepat, masihkah kita yang mengaku menerima Kristus dalam kehidupan juga mengalami perubahan untuk terus menuju pada hakikat kita pada awal mula penciptaan sebagai rekan sekerjaNya? Atau jangan-jangan kita malah tergerus dengan pola perbudakan dunia? (gus)

“Manusia sejati adalah manusia yang sadar identitas awal ia diciptakan”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak