Bacaan : Yohanes 13 : 1 – 17, 31 – 35 | Pujian : KJ 434
Nats : “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” [ayat 35]
Saya masih menyimpan ID Card (kartu pengenal) dari tiap sidang gerejawi yang pernah saya ikuti. Sejak jadi parampara saat masih vikar, anggota Majelis Daerah saat menjadi Pendeta Jemaat dan sampai kini sebagai anggota Majelis Agung saya selalu berusaha menyimpan ID card-nya. Berapa jumlahnya, saya tak ingat lagi. Namun satu hal yang pasti jelas, dalam tiap ID card itu nama yang tercantum di dalamnya selalu sama. Ya….nama saya tak berubah meski desain kartu dan tahun sidangnya berbeda-beda.
Saudara, sadarkah kita bahwa sebagai murid Kristus, kita seharusnya juga punya ID card. Tanda pengenal yang menunjukkan siapa kita dan apa tugas kita. Dalam narasi Yohanes yang kita baca hari ini, kita bisa turut merasakan syahdunya perjamuan makan terakhir Yesus bersama para murid-Nya. Dalam perjamuan itu, mereka tak hanya berbagi roti dan anggur bersama, namun di dalamnya Tuhan Yesus juga memberi teladan luar biasa saat bersedia menanggalkan jubah, mengikat kain lenan di pinggang dan membasuh kaki para murid. Setelah memberikan teladan yang benarbenar bisa dilihat dan dirasakan para murid, Yesus lalu memberikan perintah-Nya: “…supaya kamu saling mengasihi” (ay.34). Perintah baru inilah yang akan menjadi identitas sebagai murid-Nya, karena Yesus menyatakan “dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (ay.35). Dalam perintah baru yang diberikan inilah, identitas baru juga diberikan: kasih.
Kamis putih adalah saat dimana kita mengenang detik-detik akhir kehidupan Tuhan Yesus menjelang Ia menderita dan mati. Berbeda dengan kebanyakan kita yang tak tahu kapan dan bagaimana kita mati, saat itu Yesus tahu waktu dan cara-Nya. Namun, tak pernah Ia berpikir untuk menghindari apalagi lari, Ia justru memilih untuk menghabiskan waktu-Nya yang tersisa untuk menunjukkan teladan dan memberi pesan terpenting bagi para murid untuk diwujudnyatakan: kasih. Nah, mari memeriksa diri…sudahkah ID card kasih itu kita kenakan? [Rhe]
“Dalam setiap keindahan, selalu ada mata yang memandang. Dalam setiap kebenaran, selalu ada telinga yang mendengar. Dalam setiap kasih, selalu ada hati yang menerima” (Helen Keller)