“Buzzer” Pancaran Air Hidup 18 Agustus 2025

18 August 2025

Bacaan: Yeremia 23 : 30 – 40  |  Pujian: KJ. 427
Nats: “Akan tetapi, janganlah kamu menyebut-nyebut lagi ucapan ilahi yang dibebankan TUHAN, sebab yang menjadi beban bagi setiap orang ialah perkataannya sendiri.” (Ayat 36a)

Tentu kita sudah tidak asing dengan istilah Buzzer, sebab istilah ini pada zaman sekarang sudah sering digunakan di media sosial dan kehidupan sehari-hari. Istilah Buzzer sendiri merujuk kepada individu atau kelompok yang mempromosikan sebuah ide dan mendiskreditkan ide yang lain demi tujuan dan kepentingan tertentu. Dan perang antar Buzzer ini yang kemudian menjadikan kebingungan bagi masyarakat untuk menentukan kebenaran yang mana yang sesungguhnya? Di sini masyarakat perlu untuk menelisik lebih dalam sehingga mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.

Pada zaman dahulu, sebelum bangsa Israel menerima hukuman dari Allah dan dibuang ke Babel, muncul nabi-nabi yang seakan-akan seperti Buzzer. Mereka tidak mau mengerti dengan kondisi yang sedang terjadi dan justru menceritakan hal-hal yang sebaliknya. Kondisi sebelum pembuangan ke Babel penuh dengan ketidakadilan dan kesenjangan sosial. Akan tetapi banyak nabi dan pemimpin pada saat itu yang mengatasnamakan pesan dari Allah bahwa kondisi mereka sedang baik-baik saja. Hal inilah yang kemudian oleh Yeremia ditentang habis-habisan. Mereka, nabi-nabi yang mengatasnamakan Allah dalam nubuat palsu mereka, mereka akan menerima hukuman. Di sini Yeremia mengajak  umat Israel untuk lebih teliti dalam menyerap informasi dan nubuat dari nabi-nabi yang mereka dengar. Yeremia mengajak umat Israel melihat bahwa situasi saat itu sedang tidak baik-baik saja, umat Israel diajak untuk kembali kepada Allah. Tetapi para tokoh dan para nabi palsu saat itu mengatakan sebaliknya.

Tema bula pembangunan GKJW saat ini: “Membangun budaya kritis apresiatif.” Kita sebagai GKJW diingatkan dan diajak untuk lebih dalam memahami setiap informasi yang kita terima dan kita harus kritis. Jangan mudah disesatkan dengan informasi-informasi palsu yang kita terima. Jangan sampai informasi palsu (hoax) yang kita terima menjadikan perpecahan dalam kehidupan kita, begitu juga dalam persekutuan kita sebagai GKJW. Jadikanlah kebenaran sebagai yang utama, meski membutuhkan tenaga untuk menemukan kebenaran itu, yakinlah dengan kebenaran, perpecahan bisa kita hindari, agar pembangunan GKJW tidak sia-sia dan nama Tuhan senantiasa dimuliakan. Amin. [BWP].

“Teliti setiap informasi yang kita terima maka selamatlah masa depan kita.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak