Kata Motivator Pancaran Air Hidup 16 September 2021

16 September 2021

Bacaan: 1 Korintus 2 : 1 – 15 | Pujian: KJ. 49 : 2, 4
Nats:
“… supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” (Ayat 5).

Dalam suatu perjalanan menuju MA, saya pernah membaca tulisan di bak truk demikian: “Urip iki ora seindah omongane Mario Teguh”. Tulisan-tulisan di bak truk memang cenderung vulgar terkadang kasar. Tetapi sepertinya hal itu merupakan refleksi realistis masyarakat. Pak Mario Teguh, seperti yang kita tahu adalah salah satu motivator yang sering muncul di TV beberapa tahun yang lalu. Apa yang dia sampaikan baik, bahasanya indah, dan memotivasi banyak orang. Namun tidak semua orang bisa melakukannya bahkan yang mengucapkan sendhiri. Nasihat-nasihat yang terdengar berhikmat nyatanya tidak selalu mendatangkan hikmat bagi yang mengucapkan dan mendengarnya.

Dalam bacaan hari ini, kita melihat Paulus, sosok yang bertolak belakang dengan karakter motivator yang tampil di TV. Dalam berbagai nasihat yang disampaikan, Paulus mengawali dengan pengakuan bahwa cara penyampaiannya tidaklah indah dan hebat, tetapi apa yang diucapkan berakar dan berangkat dari iman kepada kekuatan Allah. Jika jemaat keliru dan tersesat, Paulus tidak segan untuk menegur, bahkan dengan bahasa yang keras. Yang menjadi fokus Paulus bukanlah bagaimana dia menyampaikan, tetapi apa dan dari siapa segala yang disampaikannya. Pusatnya bukan pada dhiri dan kemampuannya, melainkan kehendak Sang Pengutus. Sehingga apa yang disampaikan juga untuk kemuliaan Tuhan dengan mengajak umat Tuhan hidup sesuai kehendak-Nya.

Berkata dengan baik dan indah tentu bukan hal yang salah malah perlu kita upayakan untuk dapat melakukannya. Namun yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kita berusaha untuk berkata dan menghidupi yang benar sesuai Firman Tuhan: jika YA katakan YA, jika TIDAK katakan TIDAK. Mari kita tidak mendahulukan ke-aku-an kita melainkan kehendak Tuhan, seperti halnya yang Paulus lakukan. Dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita berupaya melakukan apa yang kita katakan, supaya hidup kita utuh bukan seperti gajah diblangkoni: iso kotbah tapi ora nglakoni. (WE).

 “Firman Tuhan penuntun kehidupan”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak