Karena Cinta Pancaran Air Hidup 16 Juli 2021

16 July 2021

Bacaan: Yeremia 10 : 17 – 25 | Pujian: KJ. 413
Nats:
“Hajarlah aku, ya TUHAN, tetapi dengan selayaknya, jangan dengan murka-Mu, supaya aku jangan Kaubinasakan!” (Ayat 24).

Apa yang kita rasakan jika anak-anak kita terluka? Tentu kita merasa sedih, bahkan ada seorang ibu yang pernah berkata: “Nek iso aku wae sing lara, aja anakku”. Secara naluri, semua orang tua tentu sayang dan mengharapkan kehidupan yang baik bagi anaknya. Namun, dalam PAH tahun lalu tertulis doa seorang tokoh yang meminta Tuhan menghajar dan menempatkan anaknya dalam tantangan dengan sebuah refleksi bahwa kasih sayang ternyata tidak hanya terwujud dalam pelukan, tetapi juga teguran. Tentu tidak semua orang tua bisa melakukannya. Dan juga tidak semua anak bisa menerima kasih sayang yang demikian.

Bacaan hari ini merupakan curahan hati Yeremia melihat kondisi bangsanya yang sedang dihukum oleh Tuhan. Bukan protes yang terucap, melainkan sebuah pengakuan tentang kemahakuasaan dan kasih Allah. Kasih yang terwujud dalam sebuah penghukuman dan penjajahan. Yeremia sadar benar, mengapa semuanya itu terjadi, tidak lain karena keangkuhan dan dosa Israel. Mereka meninggalkan dan melupakan Tuhan, hidup sekehendak mereka bahkan melakukan hal yang tidak berkenan dihadapan Tuhan. Untuk semuanya itu Tuhan tidak tinggal diam, Tuhan mendidik dan menegur Israel. Tuhan tidak ingin Israel terjerumus dalam dosa dan semakin jauh dari Tuhan. Tindakan Tuhan yang demikian direspon oleh Yeremia dengan sebuah pengakuan dan permohonan, “Hajarlah aku, ya Tuhan…”. Ungkapan yang demikian tentu tidak dapat muncul begitu saja, ada proses dan hubungan intim yang mendasarinya. Yeremia tidak hanya menempatkan dhiri sebagai umat tetapi juga seorang anak yang sedia dididik orang tuanya.

Bacaan hari ini menjadi “kaca pangilon” bagi kita, sebagai orang tua, sudahkan kita mendidik anak-anak kita dengan benar, dalam kasih dan perhatian, sekaligus teguran dan ketegasan, seperti halnya didikan Tuhan bagi Israel sehingga anak-anak kita tidak menyimpang dari jalan Tuhan? Sebagai anak, bersediakah kita dididik oleh Tuhan melalui orang tua kita? Jawabannya ada pada dhiri kita masing-masing. Semuanya itu tidak mudah, tetapi ketika kita sebagai orang tua, juga sebagai anak mampu mendasarinya dengan cinta, maka muaranya adalah kebaikan semata. (WE).

 “Kawan memeluk dengan cinta tetapi musuh merangkul dengan bisa” (Ams 27:6 –BIS).

Renungan Harian

Renungan Harian Anak