Bacaan: Kejadian 27 : 30 – 38 | Pujian: KJ. 335
Nats: “Kata Esau kepada ayahnya, “Hanya berkat yang satu itukah ada padamu, Ayah? Berkatilah aku ini juga Ayah!” Esau pun menangis dengan suara keras.” (Ayat 38)
Terdapat pepatah, “Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang kita, tetapi meminjamnya dari anak cucu kita.” Pepatah ini menunjukkan bahwa kita bukan pemilik bumi yang mutlak, tetapi kita hanya pengelola bumi sementara. Seperti seseorang yang meminjam barang milik orang lain, maka barang yang dipinjam itu harus dijaga dan dirawat dengan baik agar dapat dikembalikan dalam keadaan utuh dan baik pula. Pun demikian dengan bumi yang kita tempati, kita mendapat tugas untuk merawat dan menjaganya tetap baik. Oleh karena itu, diperlukan tekad yang kuat dan kesadaran bersama untuk tetap menjadikan bumi sebagai rumah bersama yang nyaman untuk ditinggali.
Dalam bacaan Kejadian 27:30-38, dikisahkan Esau yang datang terlambat kepada Ishak, ayahnya dengan harapan menerima berkat. Namun ternyata berkat itu sudah diberikan kepada Yakub. Esau menangis karena tahu bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang berharga. Berkat yang seharusnya ia terima, kini hilang karena kelalainnya sendiri, kemudian menangislah Esau. Sambil menangis, ia bertanya, “Tidakkah ayah mempunyai berkat lain bagiku?” Ishak hanya bisa menjawab bahwa berkat utama sudah ia diberikan kepada Yakub, dan tidak bisa ditarik kembali. Tangisan Esau adalah simbol dari hati yang kehilangan, ia menyadari bahwa betapa penting dan berharganya berkat dari Ishak yang sudah tidak lagi ia miliki.
Peristiwa dalam bacaan kita hari ini bukan hanya tentang keluarga Ishak, tetapi juga menggambarkan kisah hidup manusia di sepanjang zaman. Tuhan Allah telah memberi berkat kepada kita sejak awal penciptaan. Tuhan berfirman, “Beranak cuculah dan penuhilah bumi; taklukkanlah itu dan berkuasalah atasnya.” (Kej. 1:28). Namun berkat itu sering kali disalahgunakan oleh kehendak pribadi manusia. Manusia ingin memenuhi dan menguasai bumi dengan keserakahan yang merusak, mencemari, dan mengeksploitasi alam ciptaan Tuhan. Sebenarnya, berkat Tuhan tidak akan hilang begitu saja, berkat itu masih bisa kita rasakan jika kita bertobat dan mengubah perilaku kita terhadap bumi beserta isinya. Karena bumi adalah berkat Tuhan, maka mewarisi bumi artinya kita bersedia untuk menjaga serta merawat bumi sebagai tanda syukur kita atas kasih dan pemeliharaan Tuhan di dalam hidup kita. Amin. [Hy].
“Melalui merawat bumi, kita menjaga warisan Tuhan.”