Utuh Dihadapan Allah Renungan Harian 16 Januari 2021

Bacaan : Mazmur 139 : 1 – 6; 13 – 18 | Pujian : KJ. 364
Nats: “… segala jalanku Kau maklumi.” (Ay. 3b)

Sudah dua hari berturut turut selepas bedug kami bertiga mengambil kelengkeng yang sudah di brongkos (bungkus) dengan cara melempar kayu palang yang sudah diikat dengan tali rafia. Naas siang itu Pak Agus penjaga kebun tiba – tiba sudah berdiri di belakang kami tanpa kami sadari, tidak ada raut muka garang, umpatan dan bentakan yang terlontar dari bibirnya, ketika beberapa pertanyaan harus kami jawab. Gemetaran karena takut sempat hinggap dibenak kami namun lambat laun mulai sirna, kami menjawab pertanyaan apa adanya. Ternyata selama ini Pak Agus mengetahui apa yang kami lakukan. Ia berpesan dan meminta kami untuk berjanji tidak akan mencuri lagi, sebagai gantinya kami diperbolehkan membawa kelengkeng yang kami curi dan memperbaiki pagar yang kami rusak. Kami lega, karena kami tidak mendapat perlakuan yang seperti kami bayangkan.

Tidak mudah untuk hidup taat pada semua perintah/firman Tuhan. Kegagalan dan kejatuhan seringkali berujung pada hilangnya rasa damai. Sebenarnya bukan ketidaksetiaan/ ketidaktaatan kita yang menyebabkan kedamaian dan ketenangan itu hilang, tetapi justru sikap kita dalam menerima kegagalan dan kejatuhan itulah penyebabnya. Seperti memberontak terhadap situasi yang kita anggap buruk, merasa tidak cocok dengan apa yang kita harapkan. Hal ini dapat merugikan dan menghilangkan kenyamanan tidak hanya bagi diri kita sendiri tetapi juga sesama karena bukan mencari solusi melainkan sibuk dan ribut mencari pembenaran diri, bukan kebenaran. Mereka akan jadi sasaran kemarahan kebencian dan ketidakpuasan kita.

Allah Bapa menyatakan diri sebagai pribadi yang Maha tahu, Maha maklum, seperti yang tertulis pada Mazmur 139:3b. Tidak perlu kita mengelak atau mencari pembenaran ketika kita jatuh dan gagal untuk taat. Sikap yang bijak adalah kita mengasah dan melatih untuk menggapai keutuhan pribadi, jujur, terbuka dan sadar dihadapan Tuhan. Dengan melatih diri sedemikian rupa walaupun kita gagal, jatuh berulang kali kita tetap berbesar hati, tenang, dan mampu melanjutkan kehidupan pemberian Tuhan ini. Mari kita mengikut Tuhan, beriman dengan utuh. (japri)

 Anda ingin damai dan tenang hiduplah dengan utuh dihadapan Allah”

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •