Bacaan: Keluaran 33 : 7 – 23 | Pujian: KJ. 435
Nats: “TUHAN berbicara dengan Musa berhadapan muka seperti seseorang berbicara dengan temannya.” (Ayat 11a)
Pada zaman ini, semakin banyak orang yang lebih senang didengarkan daripada mendengarkan. Hal itu terjadi karena kita terbiasa menyampaikan pendapat, curhat, berkomentar bahkan menyampaikan keluhan. Melalui cara berkomunikasi seperti itu membuat seseorang sulit untuk bisa memahami keadaan dan maksud orang lain.
Dalam perikop bacaan saat ini, kita menyaksikan relasi Musa dan Tuhan yang begitu dekat. Dijelaskan bahwa Musa mendirikan kemah pertemuan, tempat ia berbicara langsung dengan Tuhan. Kemah pertemuan itu tidak hanya digunakan untuk tempat ibadah saja, tetapi menjadi tempat Musa untuk belajar mendengarkan suara Tuhan secara langsung dan pribadi. Ayat 11 menunjukkan kepada kita bentuk komunikasi yang dalam, terbuka, serta penuh keintiman antara Musa dan Tuhan. Musa mau menyediakan waktu, tempat dan hatinya untuk mendengarkan suara Tuhan. Sekalipun pada waktu itu, Musa ada pada situasi bangsa Israel yang sedang kacau karena dosa yang mereka lakukan. Di sinilah Musa memberikan teladan kepada Bangsa Israel, dengan mencari wajah Tuhan dan mendengarkan suara-Nya. Musa tidak hanya menginginkan janji Tuhan tetapi dia juga merindukan kehadiran dan penyertaan-Nya (Ay. 15). Musa tahu bahwa tanpa Tuhan, maka dia hanya akan berjalan tanpa arah.
Mendengarkan Tuhan tidak bisa didapatkan dengan cara yang instan, tetapi harus ada usaha yang dilakukan. Untuk bisa dekat dengan Tuhan, Musa menyediakan kemah pertemuan. Bagaimana dengan kita, apakah yang bisa kita lakukan untuk belajar mendengarkan suara Tuhan? Di tengah dunia yang semakin ramai dengan suara ambisi, keluhan, dan keinginan diri, ini dapat menciptakan sikap tidak mau mendengarkan sesama. Dalam relasi dengan Tuhan, kita lebih sering berbicara dalam doa, namun kurang memberikan ruang untuk hening, diam dan mendengarkan suara Tuhan. Oleh karena itu, mari kita belajar mendengarkan suara Tuhan. Mari saat ini, kita menyediakan ruang dan waktu khusus untuk mendengarkan suara-Nya melalui doa, firman-Nya dan keheningan. Mari kita belajar mendengarkan suara Tuhan dengan menyediakan waktu jeda, berhenti sejenak dari segala aktivitas, berdiam diri dihadapan-Nya untuk membangun relasi dan membuka hati kita untuk Tuhan. Dengarkanlah suara Tuhan! Amin. [Hy].
“Tuhan hadir untuk mereka yang bersedia mendengarkan-Nya.”