Bacaan: 1 Petrus 1 : 13 – 16 | Pujian: KJ. 436
Nats: “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, …” (Ayat 14)
Kehadiran Yesus adalah bentuk cinta Ilahi yang rela menerima kemanusiaan kita dalam sisi paling rapuh sekalipun. Ia memahami bagaimana kita bergelut dalam perjuangan untuk taat pada kehendak Allah dan kecenderungan untuk melanggarnya. Maka dianugerahkan-Nyalah keselamatan, bukan karena kita layak menerimanya, melainkan karena kita tidak mungkin menyelamatkan diri kita sendiri. Lalu dituntunnya hidup kita sebagai anak-anak-Nya.
Melalui suratnya, Rasul Petrus menguatkan orang-orang Kristen non-Yahudi di Asia Kecil yang sedang menderita karena imannya. Ia mengajak mereka melihat penderitaan sebagai cara bersaksi tentang Yesus Kristus. Mereka dipanggil menjadi bagian dari umat pilihan Allah yang menerima anugerah keselamatan dan terlahir kembali dalam pengharapan. Konsekuensi dari identitas baru itu, mereka harus hidup dengan cara baru pula. Tidak seperti sebelum mengenal Kristus, dikuasai hawa nafsu pada waktu kebodohan mereka (Yunani: agnoia – ketidaktahuan/kebutaan moral). Kehidupan mereka harus beranjak pada pengertian yang semakin benar akan kehendak Allah. Meskipun pilihan untuk taat beresiko penderitaan, tetapi berjuang hidup kudus adalah panggilan untuk semakin serupa dengan Kristus.
Berada dalam limpahan anugerah Kristus tidak berarti hidup kita tanpa perjuangan. Jika kita menyatakan, “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu!”, kita harus berani meninggalkan cara hidup yang bertentangan dengan kehendak Allah. Taat kepada Tuhan bukanlah perkara instan. Kita tidak dapat mengabaikan kerentanan manusia untuk jatuh dan kecenderungan berpusat pada keinginan daging. Maka diperlukan proses melatih diri, mengekang hawa nafsu kedagingan, dan memaksanya untuk mengabdi kepada Tuhan. Ketertundukan pada kehendak Ilahi tentu disertai resiko penderitaan. Namun kebangkitan Yesus meneguhkan kita untuk bangkit dan menata ulang kehidupan. Menyadari bahwa hidup yang dilimpahi anugerah Kristus sejatinya memanggil kita untuk diperbaharui dari dosa. Ini menantang keberanian kita untuk hidup benar, meskipun bertentangan dengan cara hidup dunia yang dikuasai nafsu dosa. Sesulit apapun perjuangannya, pandanglah Yesus yang terlebih dulu taat dan setia sampai pada kesudahan-Nya. Dialah teladan hidup kita. Amin. [wdp].
“Berjuang hidup kudus bukan ditujukan untuk beroleh keselamatan, melainkan buah dari hidup yang telah diselamatkan oleh anugerah Kristus.”