Atas Nama Kemanusiaan Pancaran Air Hidup 14 Oktober 2021

Bacaan: Roma 15 : 7 – 13 | Pujian: KJ. 362
Nats: ”Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” (Ayat 7)

“Tuhan dari agama apakah yang menciptakan manusia?” Jawabnya adalah Tuhan Sang Pencipta manusia. Saat agama-agama di dunia tak lagi mampu menghantarkan para penganutnya untuk berdamai dalam perbedaan, mungkin dunia butuh satu agama baru. Agama baru itu mungkin tepat jika dinamai agama Kemanusiaan. Seluruh umat manusia harus menganutnya, agar setiap insan dapat menghayati betapa indahnya sebuah perdamaian. Kita tentu jengah dengan narasi-narasi yang mengatas-namakan agama, tetapi justru mengabaikan sisi terpenting darinya, yakni kemanusiaan. Religiusitas bukan tampak dari pakaian, gaya berdoa, gaya sembah-Hyang, atau kecerdasan pikiran dalam mengulas Kitab Suci. Religiusitas itu soal hati nurani, yang di dalamnya manunggal antara yang ilahi dan yang manusiawi.

Jemaat Tuhan di Roma seakan dicelikkan oleh Paulus atas pentingnya nilai kemanusiaan. Bagi Paulus, kemanusiaan adalah nilai yang harus diperjuangkan dan menjadi tujuan bersama. Kemanusiaan adalah nilai yang membangun kehidupan umat manusia. Ini semestinya melampaui kepentingan apalagi kebanggaan atas masing-masing kelompok. Manusia adalah manusia seutuhnya. Agama, komunitas, kelompok, dan semacamnya, semestinya hanyalah atribut penghias keindahan hidup. Keindahan hidup akan terwujud jika nilai kemanusiaan dijadikan dasar dan tujuan hidup bersama. Oleh karena itulah, Paulus menasihatkan agar kita dapat saling menerima satu akan yang lain, memuliakan Tuhan dengan cara penerimaan terhadap liyan (orang lain yang berbeda) sebagai cara yang paling mulia.

Saat ini, kita adalah pioneer untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab. Panggilan ini mengisyaratkan kepedulian melintasi diri pribadi, melintasi kelompok, melintasi atribut. Kita tetap berharap pada terwujudnya kesatuan umat manusia seluruhnya. Pengharapan ini memberikan kita dasar, arah, dan tujuan yang jelas terhadap kehidupan. Bahwa, nilai ilahi yang dinyatakan oleh Allah dalam diri Tuhan Yesus Kristus adalah demi mewujudkan nilai kemanusiaan. Kristus dalam wujud kemanusiaan-Nya, Ia peduli terhadap manusia lainnya adalah bukti nyata bahwa memperjuangkan nilai kemanusiaan adalah cara yang paling mulia untuk memuliakan Allah. Amin. [aan].

”Melestarikan nilai-nilai kemanusiaan adalah cara paling mulia untuk melestarikan kasih Allah bagi manusia dan dunia ini.”

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •