Demi Cinta Renungan Harian 14 Oktober 2018

14 October 2018

Bacaan : Markus 10 : 17 – 31  |  Pujian: KJ 249
Nats: “Hanya satu kekuranganmu, pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” [ayat 21]

Ketika menikah, ada kebiasaan yang harus kita sesuaikan pasangan kita. Seperti pengakuan seorang suami “Istri saya menemani ke pertandingan sepakbola dan ikut bersorak bersama saya. Meskipun saya tahu,  ia tidak menyukai sepak bola”. Seorang istri bercerita “ Saya tahu suami saya tidak menyukai bau dan rasa buah durian, tapi setiap musim durian, ia membawa pulang durian sebagai oleh-oleh”. Tanpa bela rasa, suami isteri tidak dapat hidup bersama.  Ada nilai  yang disepakati dan  diperjuangkan diantara kepentingan masing-masing. Berat atau ringan melakukan itu? Kalau demi cinta, apa sih yang berat ?

Ketika Tuhan Yesus meneruskan  perjalananNya, seseorang bertanya kepadaNya tentang apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup kekal.  Tuhan Yesus mengatakan bahwa ada satu hal yang belum ia lakukan yakni menjual apa yang dimiliki dan memberikannya pada orang miskin. Dengan melakukan itu maka harta di sorga menjadi kepunyaannya. Namun orang itu menjadi kecewa dan pergi dengan sedih sebab ia memiliki banyak harta.

Orang kaya yang menolak berbagi bisa menjadi gambaran kondisi gereja-gereja saat ini yang hanya mengutamakan komunitas dan kepentingannya sendiri. Hal ini menjadi keprihatinan gerakan ekumene di Indonesia. Gereja-gereja belum benar-benar memperjuangkan terwujudnya tanda-tanda Kerajaan Allah di bumi Indonesia dengan menjawab persoalan masyarakat tentang kemanusiaan, HAM, keadilan, dsb. Mereka justru masih terlalu sibuk berebut tentang siapa yang paling benar dalam hal doktrin, model ibadah, teologi, dsb dan lupa tugas panggilan untuk menggarami dan menerangi dunia.

Untuk menjadi individu maupun komunitas yang ber-ekumene, kita harus siap memperjuangkan nilai bersama diatas kepentingan individu dan komunitas. Individu/ komunitas ekumenis juga perlu memiliki  kerendahan hati  melepaskan ke-aku-annya dan belajar dari komunitas lain untuk  bertumbuh bersama. Berat ? Kalau demi  cinta, apa sih yang berat? [nw]

“Dasar hidup berekumene adalah CINTA. CINTA pada panggilan menjadikan dunia sebagai rumah bersama.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak