Bacaan: Kisah Para Rasul 28 : 23 – 31 | Pujian: KJ. 280
Nats: ”Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.” (ayat 31).
Tidak dengan semua orang kita dapat berbincang lepas tanpa tedheng aling-aling. Jika dirasakan secara mendalam, seringkali perbincangan yang demikian ini sarat dengan kepentingan diri dalam rupa kesombongan, jaim, kebohongan, takut untuk direndahkan atau tidak dihargai. Sikap semacam ini yang kemudian menjadikan relasi antar manusia semakin tertutup. Jangankan dengan orang di luar rumah, wong dengan yang serumah saja kita seringkali masih jaim kok. Sikap ”jaga image” yang paling nampak biasanya adalah kepada anak-anak. Sebagai orang tua, sebagai pamong, atau sebagai guru pengajar, kita merasa bahwa diri kita lebih ”tinggi” daripada anak-anak, sehingga kita membentuk benteng tebal dalam wujud penampilan yang sangar agar anak-anak hormat kepada kita. Demikian pula hal serupa kita lakukan dalam berelasi dengan yang lain.
Gaya yang demikian ini sebetulnya menghambat kita untuk melihat kemurnian diri atau keilahian Yesus Kristus yang mendasari kehidupan kita. Karena, dengan menciptakan benteng diri semacam itu, kita sedang menampilkan diri yang palsu. Kepalsuan ini bukan hanya membuat kita tidak dapat terbuka dalam berelasi dengan keluarga atau saudara yang lain. Tetapi, juga menjadi sekat pemisah antara kita dengan Allah. Dalam doa, kita seringkali masih enggan mengakui kesalahan kita di hadapan Allah secara spesifik. Biasanya, hanya kata-kata umum saja yang diungkapkan, ”Tuhan ampunilah kesalahanku”, tanpa kita mau jujur membeberkan secara detil tentang apa saja dosa yang kita lakukan.
Rasul Paulus memberikan teladan kepada kita supaya kita memiliki sikap hidup yang jujur dan terbuka terhadap keberadaan diri kita sendiri apa adanya. Jika kita penakut, tidak perlulah kita menciptakan penampilan diri yang sangar dan terkesan menakutkan bagi orang lain. Jika kita tergolong orang yang kurang percaya diri, tak perlulah kita berpenampilan sok cool. Jika kita pendosa, tak perlulah kita bersikap sok benar dengan mengoreksi setiap kesalahan orang lain. Akui saja dan ungkapkan di hadapan Tuhan secara detil tentang diri kita. Dan di hadapan manusia, tampilkan saja diri kita secara jujur. Kejujuran dan keterbukaan akan menjadikan kedatangan Tuhan mengisi hidup kita secara penuh. Dengan mawas diri, hidup kita menjadi layak untuk dijalani. Amin. [aan].
”Urip iku samadya wae, ora prelu digawe-gawe, ndhak dadi gawe”