Disiplin Diri Renungan Harian 14 Agustus 2019

14 August 2019

Bacaan : Lukas 12 : 41 – 48  |  Pujian  :  KJ.  362
Nats:
Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya “ (ayat 42)

Jika kita perhatikan, tugas menjaga palang pintu persimpangan kereta api nampaknya bukanlah pekerjaan yang sulit dan bisa dilakukan setiap orang. Namun di balik pekerjaan yang nampaknya mudah itu sesungguhnya diperlukan sikap kerja yang disiplin, fokus dan bertanggungjawab. Bayangkan jika petugas perlintasan kereta api menganggap remeh tugasnya lalu bekerja secara sembarangan. Dia juga tidak memperhatikan waktu atau signal yang diterima dari stasiun pengirim,maka dapat dipastikan akan timbul banyak korban akibat sikap sembarangan yang dia miliki. Pekerjaan mudah namun jika dilakukan secara serampangan akan berdampak tidak baik bahkan dapat berdampak buruk.

Dalam bacaan yang kita baca nampaknya juga serasa mudah berjaga-jaga menunggu pintu diketok dari luar lalu kita membukakannya sekaligus menyambut Sang Tamu yang datang. Namun persoalannya ketika waktu kedatangan Sang Tamu yang tidak pasti itulah yang membuat terlena bahkan lengah. Maka celakalah jika Sang Tamu datang dan mengetok pintu disaat kita lengah dan tidak siap. Tentu kita akan kehilangan momentum penting yang belum tentu terulang lagi.

Maka adalah penting untuk mendasari segala tanggungjawab yang kita miliki dengan kecintaan pada tugas yang kita emban. Jika tugas kita adalah sebagai penjaga pintu, maka seharusnya kerinduaan, kecintaan kita pada tugas itulah yang harus kita pelihara dan rawat. Proses inilah yang akan membentuk disiplin diri dalam mengemban sebuah tanggungjawab.

Setiap pribadi yang setia dan bertanggungjawab adalah pribadi yang menjaga cinta kasihnya pada setiap tanggungjawab yang diberikan. Ia melakukan semua hal dengan bijaksana, dan hati yang terus penuh dengan gairah dan semangat. Dia tak peduli apakah yang diberikan kepadanya sebuah tugas yang besar atau biasa-biasa saja. Baginya itu bukanlah hal yang penting karena melakukannya dengan penuh cinta dan tanggungjawab agar menyenangkan Sang Tuan pemberi mandat itulah hal yang terpenting dan terutama. Maka orang-orang seperti inilah yang kelak akan diangkat sebagai pribadi terpilih oleh Sang Tuan. (Oka)

 “Niat dan upaya sungguh-sungguh untuk menyenangkan Sang Tuan hanya bisa timbul dari rasa mencintai Sang Tuan dengan sepenuh hati”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak