Sang Imam Besar Pancaran Air Hidup 12 Februari 2026

12 February 2026

Bacaan: Ibrani 8 : 1 – 7  |  Pujian: KJ. 446
Nats: “Inti semua yang kita bicarakan itu ialah kita mempunyai Imam Besar yang demikian, yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Maha Besar di surga, dan melayani ibadah di Tempat Kudus, yaitu di dalam kemah sejati yang didirikan oleh Tuhan dan bukan oleh manusia.” (Ayat 1-2)

Di GKJW sebelum revisi Tata Ibadah tahun 2022, sebutan imam sering kali dipergunakan untuk menyebut seorang anggota Majelis Jemaat yang bertugas untuk menata tugas, berdoa di konsistori, dan menyerahkan Alkitab pada pelayan yang akan melayani di atas mimbar. Pemahaman ini kemudian diluruskan dengan pemahaman baru. Sebutan imam adalah sebutan untuk pelayan firman yang memimpin jalannya ibadah dan menyampaikan firman Tuhan dari atas mimbar. Sedangkan anggota Majelis Jemaat yang menata persiapan ibadah, memimpin doa sebelum ibadah, dan menyerahkan Alkitab pada pelayan firman disebut sebagai koordinator ibadah bukan imam. Hal inilah yang perlu terus dipahami oleh Majelis Jemaat dan warga jemaat.

Dalam PL kita mengenal tugas seorang imam adalah memimpin umat beribadah kepada Tuhan Allah. Imam menjadi perantara antara umat Israel dengan Tuhan Allah. Imamlah yang bertugas membawa persembahan umat di hadapan Allah. Setiap satu tahun sekali, seorang imam besar masuk ke ruang maha kudus untuk menghadap pada Allah. Pada bacaan kita, penulis Ibrani menyebut Yesus Kristus adalah Imam Besar yang duduk di sebelah kanan Allah (Ay. 1). Jika imam besar Israel datang kepada Allah dengan membawa kurban berupa hewan, maka Yesus yang menjadi Imam Besar mengorbankan diri-Nya sendiri bagi umat manusia. Pengorbanan Yesus inilah yang memulihkan relasi antara Allah dan manusia, sehingga setiap umat yang percaya kepada Tuhan Yesus beroleh kasih karunia dan pengampunan dosa dari Allah.

Dalam kehidupan keluarga, orang tua khususnya seorang ayah juga berperan sebagai imam. Tugas ayah adalah memimpin anggota keluarganya untuk datang berdoa, beribadah, dan menyembah kepada Tuhan. Seorang ayah menjadi teladan iman bagi keluarganya, sehingga setiap anggota keluarga senantiasa hidup taat dan melakukan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, sebagai seorang imam dalam keluarga, seorang ayah harus menundukkan diri di hadapan Sang Imam Besar, Tuhan Yesus Kristus. Hanya dengan kepatuhan, kesediaan melakukan kehendak Tuhan, dan penyerahan diri pada Kristus, maka kita akan mampu melakukan tugas sebagai imam dalam keluarga kita. Amin. [AR].

“Imam adalah perantara umat dengan Allah, maka taat dan setialah selalu pada Allah.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak