Bacaan: Matius 5 : 21 – 37 | Pujian: PKJ. 264
Nats: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Ayat 37).
“Don’t judge book by its cover”, kalimat tersebut adalah sebuah idiom dalam bahasa Inggris yang merupakan kalimat metafora. Kurang lebih artinya adalah: jangan menilai seseorang hanya dengan melihat penampilannya, apalagi bila belum mengenalnya. Karena bisa saja kita tertipu dengan penampilannya, yang pada awalnya kita anggap baik, namun ternyata sifat dan perilakunya buruk, atau sebaliknya. Hal ini mungkin dapat menggambarkan apa yang ada dalam bacaan kita hari ini.
Dalam bacaan kita Matius 5:21-37, Tuhan Yesus mengkritik kehidupan keagamaan para ahli Taurat dan orang Farisi. Bagaimana kehidupan keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi? Mereka adalah orang-orang yang saleh dan taat pada Taurat, yang bukan hanya membaca Taurat saja, tetapi mereka juga hafal Taurat itu diluar kepala. Ternyata bagi Yesus, kehidupan keagamaan orang Farisi dan ahli Taurat munafik, karena kesalehan dan ketaatan mereka hanya untuk dipuji. Hidup mereka penuh dengan tindakan yang menindas, menghakimi, dan selalu menyalahkan umat pada waktu itu dengan memberikan aturan yang banyak. Bahkan mereka merasa sebagai yang paling benar dan menganggap umat rendah, sehingga mereka suka menghina sesamanya.
Yesus menghendaki agar kita dalam hidup ini memilih hidup beribadah yang menuju pada kehidupan kekal dan bukan hanya untuk dipuji orang lain. Memilih ibadah yang menuju kepada kehidupan kekal adalah kehidupan keagamaan yang tanpa pamrih dan rendah hati, yaitu hidup keagamaan yang melakukan perintah Tuhan dan berpusat kepada kebaikan dan kasih Kristus, bukan pada kesombongan, kebaikan, dan kehebatan diri sendiri. Hidup keagamaan yang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, inilah kehidupan yang Tuhan mau dan membuat dunia menjadi baru. Kiranya kita mau melakukan kehendak Tuhan ini, kita mau menjadi umat yang taat dan sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan. Bukan dengan maksud untuk dipuji dan dilihat saleh oleh orang lain, tetapi karena kita sungguh menyadari ibadah adalah wujud kita bersekutu dan memuliakan Allah, wujud kita sungguh mengasihi Allah. Amin. [DB].
“Jangan melakukan kebaikan hanya untuk dilihat orang, melainkan karena cintamu kepada Tuhan.”