Bacaan: Lukas 3 : 7 – 18 | Pujian: KJ. 29 : 1 – 4
Nats: “Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Ayat 8a)
Tentu kita pernah mendengar atau bahkan mengikuti prosesi pertobatan di gereja. Ada yang memberi syarat katekisasi sekian minggu atau bulan, ada pendadaran, dan ada saksi pertobatan bila perlu. Dalam percakapan terakhir sebelum ibadah dilaksanakan selalu disampaikan makna pertobatan dan konsekuensinya. Semua peserta pasti mengiyakan dan setuju dengan apa yang disampaikan pelayan Tuhan bahkan biasanya ada semacam tanda cinta dari peserta pertobatan menandai pertobatannya itu berupa jam dinding atau peralatan lainnya. Semua gembira dan terharu di hari H pelaksanaan pertobatan itu. Kita semua bersyukur kepada Tuhan dan mengucapkan selamat bagi mereka yang dilayani pertobatannya.
Esensi dari pertobatan adalah kesediaan diri untuk mengakui kesalahan di hadapan Tuhan dan tidak akan mengulangi kesalahan di hari-hari mendatang. Namun itu belum cukup sebagaimana yang disampaikan Yohanes Pembaptis kepada orang Israel yang hendak bertobat. Yang utama adalah buah dari pertobatan itu, yaitu melakukan sesuatu yang baik di mata Tuhan setelah pertobatan itu dilakukan. Mau berbagi, peduli, berbuat jujur, tidak serakah mengambil keuntungan yang bukan haknya, mencukupkan diri dengan berkat Tuhan, serta bertindak adil dalam hidup untuk diri sendiri juga sesama.
Saat ini kita sedang menantikan kedatangan Yesus Kristus Sang Juruselamat. Di masa Adven ini kita juga dipanggil untuk menyadari akan kelemahan diri bahwa kita belum mampu melakukan kehendak baik, perilaku baik sebagai persiapan di pemerintahan baru Tuhan yang penuh keadilan. Ini adalah saat kita mewujudkan buah pertobatan ini sebagai karya nyata dalam menyambut kedatangan Tuhan Yesus. Dalam masa pandemi Covid-19 saat ini, ada banyak kesulitan, halangan, dan tantangan, namun itu bukan menjadi alasan bagi kita untuk tidak mau berbagi, tidak mau peduli. Kedatangan-Nya adalah berbagi anugerah, harapan, juga cinta bagi manusia yang berada dalam kegelapan jiwa, haus akan pengharapan dan kasih. Mari kita sambut datang-Nya dengan hati baru yang peduli, siap berbagi, bertindak adil, dan siap melayani bagi kemuliaan-Nya. Amin. [LUV].
“Tidak ada pertobatan di makam.”