Bacaan: Yosua 3 : 1 – 17 | Pujian: KJ. 402 : 1, 4
Nats: “Segera sesudah kamu melihat tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, yang diangkat para imam, yang memang suku Lewi, maka kamu harus juga berangkat dari tempatmu dan mengikutinya, …” (Ayat 3b)
Seseorang yang menempuh perjalanan panjang tentu merindukan perhentian, tempat ia dapat beristirahat dengan tentram. Seperti Israel merindukan perhentian dari perjalanan panjang menuju tanah perjanjian, demikianlah mereka yang berjuang dalam iman merindukan perhentian. Tanah perjanjian memberi gambaran perhentian yang indah, akhir dari pengembaraan panjang dan melelahkan. Namun untuk tiba di sana diperlukan iman yang besar. Ketika bangsa Israel memasuki tanah Kanaan dengan menyeberangi sungai Yordan, mereka harus meneguhkan hati untuk berjuang melawan pasukan perang dan kota berkubu tanpa ada kemungkinan mundur. Tabut perjanjian yang diangkat para imam mendahului iring-iringan umat menjadi penanda bahwa Allah terus menyertai mereka. Tuhan Allah memilih Yosua untuk memimpin umat Israel menyeberangi sungai Yordan sampai proses perebutan tanah perjanjian. Yosua berhasil, umat Israel masuk ke tanah Kanaan. Kunci keberhasilan Yosua adalah ketaatan kepada Allah, kekudusan hidup, dan totalitas penyerahan diri. Demikian pula umat Israel, mereka memiliki keyakinan iman akan penyertaan dan kehadiran Allah dalam semua proses yang harus mereka tempuh. Terlebih di tengah krisis iman, seperti pengembaraan di padang gurun yang seringkali membuat mereka gagal menjadi umat yang taat dan setia.
Seperti perjalanan Israel menuju tanah perjanjian, kehidupan kita di dunia adalah peziarahan panjang menuju perhentian, yakni kehidupan sejati yang tak lagi mengenal duka dan air mata. Namun, perjalanan kita menuju ke sana adalah perjalanan yang penuh perjuangan, karena kita harus berhadapan dengan ujian dan pencobaan yang sering membuat kita gagal untuk taat dan setia. Kekudusan hidup dan iman teguh adalah kunci bagi kita menempuh peziarahan itu, sembari menyadari dan meyakini penyertaan Tuhan terus-menerus menopang dalam setiap proses kehidupan kita. Tuntunan-Nya menjadi kompas yang memungkinkan kita mengerti ke arah mana kita harus melangkah. Kehadiran Tuhan yang nyata dalam setiap peristiwa hidup kita menjadi sumber pengharapan bagi kita untuk terus berjalan melewati kesulitan hidup. Meskipun perjalanan terasa berat, kita tahu akhirnya adalah perhentian yang dirindukan oleh mereka yang telah menuntaskan perjuangan imannya di dunia. Amin. [wdp].
“Teruslah melangkah meski perjalanan hidup terasa berat,
karena setiap langkah yang kita tempuh menghantarkan pada perhentian kekal yang meneduhkan!”