Bacaan: Kisah Para Rasul 6 : 8 – 15 | Pujian: KJ. 436
Nats: “… tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.” (Ayat 10).
Setiap kali dauran Penatua dan Diaken, tidak sedikit dari warga jemaat yang telah terpilih memutuskan untuk mundur karena merasa tidak pandai berbicara di depan orang banyak. Meskipun semua naskah sudah disiapkan dengan baik, sudah dilatih berbicara di depan cermin, namun kenyataannya tetap saja sulit berbicara ketika di depan orang banyak. Namun kenyataannya, ketika ia berani mencoba untuk berbicara di depan orang banyak, ia dapat berbicara dengan sangat baik sama seperti orang-orang yang lain. Di saat itulah muncul sebuah kesadaran bahwa Tuhan memberi hikmat untuk dapat berbicara yang baik di depan orang banyak.
Begitu pula dengan Stefanus yang diberi karunia dan kuasa untuk mengadakan mujizat dan tanda di depan orang banyak. Stefanus yang penuh hikmat juga mampu bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi. Karena Stefanus penuh dengan Roh Kudus, maka orang-orang Yahudi tidak mampu berdebat dengannya. Roh Kudus memampukan Stefanus untuk berbicara di depan orang banyak. Karena merasa tidak sebanding dengan Stefanus, maka orang-orang Yahudi tersebut menjerat dan menjatuhkan Stefanus dengan hasutan. Mereka menghasut bahwa Stefanus telah menghujat Allah dan Musa. Tentu hasutan dan tuduhan ini sangat merugikan dhiri Stefanus dan membawa dia pada penghukuman. Namun meskipun demikian, hikmat Allah yang ada pada dhiri Stefanus membuat mukanya seperti muka seorang malaikat. Ini menjadi bukti bahwa Stefanus bukan orang yang bersalah seperti yang mereka tuduhkan.
Hasutan atau fitnah memang menjadi cara yang ampuh dan sekaligus cara yang sangat kejam untuk menjatuhkan seseorang. Tetapi sebagai orang percaya, yang telah mendapat hikmat dan karunia dari Allah, hendaknya kita tidak takut atau gentar dalam menghadapi hasutan atau fitnah dari orang lain. Hikmat Allah senantiasa menyertai kita umat milik-Nya dan memampukan kita untuk berbicara dan melakukan yang benar dihadapan orang banyak. (gwk).
“Ketika kalah dalam debat, fitnah menjadi alat bagi pecundang.” – Socrates