Melepaskan Genggaman Pancaran Air Hidup 10 Oktober 2021

Bacaan: Markus 10 : 17 – 31 | Pujian: KJ. 376
Nats:
“Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Ayat 21).

Gaya hidup miskin menjadi salah satu bentuk spiritualitas abad pertengahan. Fransiskus dari Asisi adalah seorang santo yang memilih hidup dalam kemiskinan untuk meneladani Yesus. Kemiskinan yang disertai kerendahan hati mengandaikan ‘kematian’ diri agar seseorang benar-benar dipimpin Roh Kudus. Para tokoh abad pertengahan ini mengambil jalan martir untuk hidup dalam kesederhanaan (simplicity). Spiritualitas demikian tentu sangat sulit dilakukan jika manusia masih dikuasai oleh rasa takut kehilangan.

Tuntutan untuk mengikut Yesus memang berat. Seseorang yang sejak mudanya sudah melakukan hukum Taurat dengan tertib saja belum dapat dinyatakan layak oleh Yesus. Karena mengikut Yesus bukan hanya soal kepatuhan pada hukum, tapi juga kerelaan melepaskan segala sesuatu. Artinya, siapapun yang ingin mengikut-Nya, harus melepaskan kemelekatannya pada apapun yang ada di dunia. Termasuk menanggalkan kebergantungannya pada kekayaan. Begitu dinasehati Yesus agar orang itu menjual segala kepunyaannya dan membagikannya kepada orang miskin, ia menjadi kecewa dan sedih. Tampaknya kekayaan telah mengikat hatinya.

Ketika kita memiliki keterikatan dengan kekayaan melebihi keterikatan dengan Kristus, kita pun belum layak mengikut-Nya. Bukan berarti kita harus hidup miskin dan tak boleh memiliki apa-apa, tapi sekalipun memiliki segalanya, hidup kita tidak bergantung pada semua itu. Karena semua yang ada pada kita adalah milik Tuhan. Justru kita dipakai Tuhan sebagai talang berkat yang berkewajiban mengalirkan berkat-berkat Tuhan kepada mereka yang membutuhkan, bukan menggenggamnya untuk diri kita sendiri. Kekayaan yang dititipkan Tuhan kepada kita tak boleh dijadikan alat pemuas keinginan daging kita semata, melainkan menjadi alat untuk mewujudkan kepedulian dan solidaritas dalam hidup bersama. Kekayaan kita adalah sarana mewujudnyatakan pekerjaan Tuhan yang mendatangkan damai sejahtera bagi semua ciptaan. Maka jangan kiranya hati kita terikat kepadanya. Sebab, mengikatkan diri pada kekayaan mampu menghalangi persekutuan kita dengan Kristus. Amin. [wdp].

 “Kehilangan yang sesungguhnya bukanlah saat melepaskan segala sesuatu untuk mengikut Yesus, tetapi saat melepaskan Yesus untuk mendapatkan segala sesuatu.”

 

Bagikan Entri Ini:

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •