Bacaan : Mazmur 85 : 9 – 14 | Pujian : KJ. 237 : 1
Nats: “Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan?” (Ayat 9).
Adalah seorang kakek sedang kehilangan jam tangannya di sebuah gudang yang berisi serbuk kayu. Beberapa kali ia mencoba mencari ditumpukan serbuk kayu tersebut, namun belum juga ditemukan jam itu. Sang cucu mengetahui apa yang dialami sang kakek, ia berusaha membantunya. Sang cucu segera masuk ke dalam gudang, menutup pintunya, dan berbaring ditumpukan serbuk kayu. Ia tidak bersuara sama sekali, hening hingga akhirnya ia mendengar suara detak jam tangan itu, tik… tik… tik…
Mazmur 85 mengisyaratkan keadaan Israel sedang dalam kondisi tidak benar di hadapan Allah sehingga harus dipulihkan. Tindakan pemulihan itu hanya bisa dilakukan oleh Allah sendhiri. Atas kesadaran itulah, pemazmur memiliki komitmen memberikan waktu untuk mendengarkan firman Allah. Pemazmur meyakini firman Allah mendidik umat agar tidak kembali pada kebodohan yang selama ini mereka lakukan. Selain itu, firman Allah yang didengar dan dihidupi oleh umat akan berdampak pada perubahan kehidupan yang semakin membaik.
Pengharapan akan masa depan berhubungan sekali dengan kesediaan mendengar. Dunia ini sangat gaduh. Dan seringkali yang didengarkan adalah hal yang tidak bermutu. Sedangkan yang bemutu, orang enggan memberi waktu untuk sungguh mendengarkannya. Mendengar diperlukan untuk memberi arah kepada kita, seperti sang cucu dapat menemukan jam tangan tersebut. Kita membutuhkan bimbingan Tuhan untuk menetapkan rencana hingga mengambil keputusan-keputusan. Oleh karena itu, kita perlu mendengar. Yang terutama mendengar firman-Nya yang dibisikkan ke dalam hati kita. Mendengar dengan sepenuh hati. Mendengar untuk belajar. Sebab solusi dan visi masa depan terletak dalam kesediaan kita untuk mendengar dan belajar. (garlic).
“Untuk mendengar dibutuhkan waktu berdiam dhiri sejenak dalam keheningan dan hanya mendengar.”