Bangga Menjadi Hamba Renungan Harian 10 Januari 2021

10 January 2021

Bacaan : Markus 1 : 4 – 11 | Pujian : KJ. 424 : 3 – 4
Nats:
“Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.” (Ay. 7)

Suatu siang, pulang sekolah, anak saya perempuan bercerita bahwa dia hari itu terpilih menjadi ketua kelas. Di sekolahnya, SD Bethari Jombang, saat itu dia kelas satu. Kami orang tuanya tersenyum mendengar cerita anak tersebut, bangga dan bahagia. Biasanya, pemilihan ketua kelas itu dilakukan atas penunjukkan kebanyakan murid atau perintah guru. Untuk mengetahui kisah terpilihnya anak kami sebagai ketua kelas, kami bertanya kepada dia bagaimana terjadinya hal itu. Dugaan kami ternyata salah. Dia terpilih menjadi ketua kelas karena maunya sendiri.

Mula-mula gurunya bertanya kepada semua murid, “Siapa yang mau menjadi ketua kelas?”. Pertanyaan seperti itu biasanya didiamkan oleh murid, yang kemudian disusul dengan penjelasan lebih lanjut tentang masalahnya oleh sang guru. Tidak jarang terjadi, pertanyaan yang dianggap menyenangkan, dijawab serentak setuju oleh kebanyakan murid. Sebaliknya pertanyaan yang dianggap merugikan, dijawab serentak tidak setuju oleh murid-murid. Contohnya : pertanyaan siapa yang rajin di rumah, akan dijawab oleh anak-anak, saya! Sebaliknya, pertanyaan siapa yang malas di rumah, akan serentak dijawab, bukan saya! Nah, terpilihnya anak kami menjadi ketua kelas tidak melewati urutan seperti itu. Ketika gurunya selesai bertanya, “Siapa yang mau jadi ketua kelas?”, anak saya langsung menjawab tegas, saya bu! Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu, tapi kami merasa senang walau asing di hati.

Umumnya orang, bangga kalau mendapat jabatan tinggi, apalagi kalau memang dari kalangan terhormat. Nah, bacaan kita bercerita lain. Yohanes Pembaptis, orang hebat yang ditakuti rakyat, bahkan juga ditakuti para pejabat sampai raja itu justru bangga jadi hamba. Ini aneh tapi nyata. Pikiran Yohanes Pembaptis dipenuhi oleh rasa kagum dan hormatnya kepada Yesus Sang Juruselamat. Bagi dia, kemuliaan Yesus Kristus itu di atas segala-galanya, bahkan di atas nyawanya. Aneh, tapi saya yakin Yohanes Pembaptis sangat bahagia dalam hubungannya dengan Yesus, apapun akibatnya. (DLS)

 “Hidup Yohanes dan Yesus itu nampak penuh kesulitan, tapi mereka sungguh bahagia”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak