Demi Kehormatan Pancaran Air Hidup 24 Maret 2021

24 March 2021

Bacaan : Yohanes 12 : 34 – 50 |  Pujian : KJ. 356
Nats
: “Sebab mereka lebih suka akan kehormatan manusia dari pada kehormatan Allah.” (Ay. 43)

 Pernah saudara membaca majalah atau surat kabar konvensional maupun digital? Kita sering menjumpai bahwa halaman depan selalu diisi dengan hal-hal yang sangat menarik minat pembacanya. Entah itu gambarnya ataupun tulisan-tulisan yang judulnya membuat pembaca tertarik dan penasaran.

Demikianlah akhir bagian Injil Yohanes yang dikenal para penafsir dengan nama “kitab tanda-tanda”. Penulis Injil menyusun Injil ini sedemikian rupa sehingga tanda-tanda mujizat Yesus ditempatkan paruh pertama, beriringan dengan tema respon, dan akhirnya penolakan para pemimpin Yahudi. Semuanya kini jelas. Setelah berbagai tanda yang dilakukan Tuhan Yesus, mereka jelas-jelas menolak-Nya. Alasannya, demi kehormatan manusiawi (43). Kehormatan sangatlah penting bagi masyarakat abad pertama dan juga masyarakat kita saat ini. Sebagai orang yang mewarisi budaya timur ‘kehilangan muka’ merupakan sesuatu yang sangat ditakuti.

Menjadi murid Tuhan Yesus punya potensi lebih dahsyat lagi. Tidak hanya menderita, pada saat yang bersamaan seorang murid juga bisa sekaligus kehilangan kehormatan di hadapan manusia lainnya. Tapi yang dipentingkan pada nats bacaan kita adalah kehormatan dari Allah, yaitu kesempatan untuk menyaksikan karya Allah dan menaati firman-Nya. Maka inilah yang tercakup dalam frasa “percaya kepada Yesus”. Seharusnya, bagi seorang murid sejati, anugerah ini adalah kehormatan yang paling tinggi.

Inilah tantangan kita sebagai murid Kristus. Ada begitu banyak dosa yang jika dilakukan justru membuat pelakunya sangat dihormati. Tapi kehormatan seperti ini jauh dari hidup yang kekal dan bertentangan dengan firman Allah. Nats ini seharusnya membuat kita bertanya, “Apakah kehormatan yang kita peroleh saat ini adalah anugerah Allah yang memungkinkan kita melayani dan memuliakan nama-Nya atau justru wujud penolakan terhadap Allah? Sebagai pengikut Tuhan Yesus, kehormatan jenis terakhir harus sepenuhnya ditanggalkan. Menolak Tuhan Yesus berarti menolak Allah Bapa yang mengutus-Nya. Tidak hanya itu, menikmati kehormatan seperti itu berarti menolak Yesus yang adalah Tuhan dan Juruselamat. Kira kita tidak berlaku demikian. (rac)

“Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak