Pagar Atau Jembatan

Bacaan : Amsal 15 : 8 – 11, 24 – 33 | Pujian: KJ 246
Nats: “…dan kerendahan hati mendahului kehormatan.” [ayat 33b]

Alkisah ada kakak beradik yang tengah berseteru karena permasalahan sepele. Sebenarnya mereka tinggal berdampingan, namun karena perseteruan itu sang adik membuat sebuah parit yang memisahkan tempat tinggal mereka berdua. Karena marah dengan provokasi adiknya, sang kakak memanggil seorang tukang kayu yang terkenal baik hati dan memintanya untuk membangun pagar tinggi agar ia tak perlu memandang rumah dan tanah adiknya itu. Tukang kayu bijak itu menyanggupi permintaan sang kakak sembari menyiapkan peralatannya. Sejak pagi hingga sore, si tukang kayu bekerja keras tanpa henti. Di penghujung hari, sang kakak terkejut karena tak ada pagar yang berdiri namun justru sebuah jembatan indah yang menghubungkan tanahnya dengan tanah adiknya. Di ujung jembatan, sang adik terlihat sangat terharu, ia meniti jembatan itu dan memeluk kakaknya yang sedang terpaku. Sang adik menangis dan memohon maaf pada kakaknya. Berkat jembatan itu mereka berdua kembali hidup mesra. Melihat kakak beradik yang sedang bahagia itu si tukang pergi sambil bergumam, “masih banyak jembatan yang harus aku bangun.”

Jembatan di kisah ini adalah wujud dari kerendahan hati. Meskipun sang kakak tak bermaksud merendahkan dirinya, namun sang adik langsung menghormati kakak yang ia anggap telah merendahkan diri. Dari sini jelas, bahwa sama seperti yang diungkapkan penulis kitab kebijaksanaan Amsal, kerendahan hati tidaklah merendahkan seseorang namun justru membuatnya mendapat hormat. Kerendahan hati bukanlah menganggap diri lebih rendah atau lebih buruk dari orang lain, namun sebuah kerelaan untuk tak lagi merasa diri sebagai yang utama atau pusat dunia. Kerendahan hati tidak menceritakan kehebatan diri, tetapi membuktikannya dalam tindakan. Kerendahan hati adalah kesediaan untuk membuka mata dan menerima sesama, bahkan mereka yang berbeda.

Apa rencana kita hari ini? Mau membangun pagar yang membatasi interaksi kita dengan sesama, atau membangun jembatan agar dapat berjumpa dengan mereka? Selamat membangun! [Rhe]

“Dalam kerendahan hati, terselip ketinggian budi.”

 

Bagikan Entri Ini: