Kejahatan Manusia

Bacaan : Kejadian 6 : 1 – 10 | Pujian: KJ 29
Nats: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal bahwa Aku telah menjadikan mereka”[ayat 7]

Perkembangan jumlah penduduk di bumi ini sangat pesat, khususnya di Indonesia menunjukkan jumlah penduduk 202,1 juta pada tahun 2000, 237,6 juta pada 2010 dan 255 juta pada Juli 2016. Kenaikan jumlah penduduk tersebut juga diikuti dengan kenaikan jumlah dan jenis kejahatan yang dibuat manusia seperti narkoba, kejahatan anak, pembunuhan, radikalisme, curanmor, penipuan, dll. Karena kejahatan sangat membahayakan negara khususnya masa depan warga negara dan anak-anak, maka telah dinyatakan oleh presiden bahwa negara dalam situasi darurat narkoba, darurat kejahatan anak sehingga pelakunya dihukum penjara berat dan kebiri.

Bacaan kita hari ini menggambarkan bahwa Allah mengamati perkembangan dan perubahan yang demikian. Kejahatan yang merupakan tingkah laku manusia yang berdampak menggangu hubungan manusia dengan Tuhan dan dengan sesamanya. Sumber penyebab kejahatan terjadi karena penyangkalan kepada Allah, penyembahan berhala, ibadah palsu, kekafiran, radikalisme, ambisi untuk mencapai angan-angan, cita-cita, hasrat, tujuan dengan jalan tanpa memperhatikan dampak negatif bagi orang lain dan lingkungan. Allah memperhatikan apa yang terjadi di bumi beserta penduduknya. Namun dengan berlipatgandanya kejahatan manusia, Allah menyesal, kecewa, sedih dan marah kepada manusia. Ayat 7 menunjukan betapa kejahatan manusia begitu besar jumlah dan jenisnya. Oleh karena murkanya maka dilaksanakan hukuman melenyapkan semua ciptaanNya termasuk manusia di bumi, kecuali Nuh dan keluarganya yang hidup benar di hadapan Allah.

Mengingat gambaran tersebut, apakah kita akan tetap membiarkan kejahatan-kejahatan terjadi sampai hukuman besar dari Allah terjadi? Atau sebaliknya kita akan memberantas kejahatan manusia, mulai dari lingkungan kita dan dari kita sendiri? Marilah kita berusaha untuk menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan dalam suatu kehidupan yang berkenan di hadapanNya. [Sri]

Janganlah membuat Allah menderita karena kemarahanNya!

 

Bagikan Entri Ini: