Golden Memories

Bacaan : Ulangan 24 : 17 – 22 | Pujian: KJ 378
Nats: “Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak …”[ayat 18]

“Bapak Pendeta asalnya dari mana?”. Pertanyaan ini seringkali diajukan kepada saya jika saya menghadiri acara-acara di gereja, di manapun. Ada beberapa hal yang terpikirkan oleh saya terkait jawabannya; desa asal, jemaat asal, tempat tinggal saat ini, yang semua itu mengarahkan kepada kenangan-kenangan hidup masa lalu saya. That is the Golden Memories! (Itu adalah kenangan berharga!) Walaupun yang banyak teringat adalah hal-hal sulit saat berjuang untuk eksis dalam kehidupan ini; anak desa yang harus sekolah keluar desa sejak SMP dengan uang saku pas-pasan, rasa minder, kalah bersaing mendapatkan pacar, ditolak, dilecehkan, dihina, dll.

“Apa dan siapa saya saat ini?” Bagaimana proses kita sampai berada pada titik saat ini? Mutlak tidak lepas dari masa lalu kita. Kita menjadi orang baik atau orang jahat semuanya tergantung proses hidup yang telah kita lewat. Tuhan mengingatkan bangsa Israel yang dulunya adalah budak di Mesir. Kini peringatan itu ditujukan kepada kita: “Siapa kamu dulu? Bagaimana kamu berproses melewati kesulitanmu?” (ayat 18 dan 22)

Itulah yang seharusnya menjadi dasar cara berpikir dan bertindak saat ini. Namun faktanya banyak orang telah keblinger, lupa masa-lalu, bahkan ada masa lalu yang sengaja dilupakan karena dianggap masa kelabu, memalukan. Padahal itulah proses yang Tuhan karyakan dalam hidup kita. Jelek, buruk atau indah, ada campur tangan Tuhan. Karena yang menilai jelek atau baik itu adalah pikiran manusia. Prinsipnya All in our lives is The Golden Memories (semua yang ada dalam hidup kita adalah kenangan berharga).

Itu sumber motivasi kita, sumber ucapan syukur kita atas segala berkat yang bisa dinikmati hari ini, sumber kasih (empati) kita, sumber kemampuan kita untuk memahami kondisi orang lain. Sumber energi kita untuk menjadi jalan berkat bagi sesama. Siapapun itu, seluruh ciptaan berhak atas keselamatan dari Tuhan. [Onewan]

Tidak ada peristiwa hidup yang bisa dikatakan baik atau buruk, kecuali pikiran kita yang membuatnya seperti itu. (William Shakespeare)

 

Bagikan Entri Ini: