Pemahaman Alkitab (PA) Oktober 2026 (I)
Bulan Ekumene
Bacaan: Amsal 16 : 1 – 20
Tema Liturgis: Merawat Persaudaraan Sejati
Tema PA: Kerendahan Hati sebagai Dasar Persaudaraan Sejati
Pengantar
Dalam kehidupan masyarakat Jawa dikenal sebuah peribahasa kebo nusu gudel, di mana secara sederhana ungkapan tersebut berarti “orang yang lebih tua belajar kepada orang yang lebih muda”. Tentu saja, dalam tradisi Jawa, peribahasa itu tidak mudah dilakukan. Sebab, seseorang yang sudah sepuh dipandang lebih berpengalaman dibandingkan yang muda. Mereka dianggap sudah banyak “makan asam garam dunia”.
Namun, sekalipun sulit, bukan tidak mungkin kondisi kebo nusu gudel itu terjadi. Apalagi, di tengah zaman modern seperti saat ini, di mana seseorang yang menguasai teknologi dinilai “lebih pintar” daripada yang tidak mengerti teknologi. Hanya saja, kebo nusu gudel tidak serta merta dapat terjadi jika orang yang lebih tua tidak memiliki kerendahan hati. Artinya, dengan menganggap diri sebagai yang “serba lebih” dibandingkan yang lain, maka proses belajar dari yang lebih muda sulit dilakukan. Padahal, pengetahuan bisa didapatkan dari mana saja, termasuk dari orang yang lebih muda.
Penjelasan Teks
Raja Salomo dikenal sebagai tokoh yang arif bijaksana. Sebagai raja yang mempunyai kesempatan meminta kekayakan dan kekuasaan dari Allah, Salomo justru memilih agar diberikan hikmat dan kebijaksanaan. Dan melalui hikmat dan kebijaksanaan itu, Salomo merefleksikan perjalanan hidupnya, khususnya sebagai seorang raja Israel. Sebagai raja dengan kekuatan, kekayaan, bahkan kejayaan yang besar, nyatanya tidak lantas membuat Salomo bersikap angkuh, sombong, dan mengandalkan diri sendiri dalam setiap rencananya.
Sebaliknya, melalui Amsal 16, Salomo menegaskan bahwa segala “kelebihan” yang dimilikinya tidak ada bandingnya dengan kedaulatan (kekuasaan) Allah. Salomo secara jelas dan tegas mengatakan bahwa manusia hanya bisa merencanakan, tetapi apa yang terjadi adalah hak mutlak Allah (Ay. 1-4). Bahkan, ia mengatakan sikap tinggi hati merupakan kekejian bagi Allah, di mana Allah tidak berkenan kepada keangkuhan. Sebaliknya, orang yang tinggi hati akan mendapatkan hukuman (Ay. 5-6). Karena itu, Salomo menegaskan pentingnya hikmat bagi manusia. Sebab, hikmat lebih berharga dari emas dan pengertian lebih baik dari sekadar mendapatkan perak (Ay. 16). Dalam konteks inilah, kerendahan hati menjadi penting dimiliki umat Allah. Tidak hanya karena manusia adalah ciptaan yang fana, melainkan karena dengan kerendahan hati, manusia akan mampu menjauhi kejahatan, kehancuran, dan sikap tinggi hati, dimana semuanya akan membawa manusia pada kejatuhan (Ay. 17-18).
Akhirnya, bagi setiap umat yang memperhatikan firman Tuhan (menerima hikmat Allah) akan mendapatkan kebaikan (Ay. 20). Hikmat Allah tampak dari sikap rendah hati satu terhadap yang lain. Sikap yang melahirkan terwujudnya kehidupan bersama penuh harapan, kekuatan, penghiburan, dan kebahagiaan.
Relevansi
Relasi antar umat manusia selalu berada dalam ketegangan, di mana tindakan tarik ulur antara mengasihi dan membenci terjadi silih berganti. Kadang seseorang bisa sangat dekat dengan anggota keluarganya, saudaranya, rekan kerjanya, dan rekan pelayanannya, tetapi pada waktu yang lain, semua yang awalnya sangat dekat tiba-tiba bisa berubah menjadi seperti musuh, sehingga hanya ada kebencian yang dirasakan. Akibatnya, tidak mau membangun komunikasi, tidak mau berjumpa, bahkan sudah tidak peduli dengan keadaan orang lain. Hal itu merupakan hal wajar dan sering kali terjadi dalam kehidupan manusia, termasuk kita semua. Yang awalnya sangat dekat, kemudian menjadi sangat jauh. Sebaliknya, yang awalnya dianggap musuh, kemudian berubah menjadi seperti saudara. Ketegangan ini terjadi karena manusia sering kali tidak mampu mengelola ego yang dimilikinya, dimana hal itu berpengaruh besar pada sikap rendah hati seseorang. Sebenarnya, tidak ada orang yang tidak memiliki rasa rendah hati. Kita semua memilikinya. Hanya saja, kerendahan hati itu ditujukan untuk orang-orang tertentu. Dan sering kali, rendah hati hanya dilakukan pada orang lain yang juga rendah hati pada kita.
Dalam kondisi demikian, maka ajakan Salomo untuk memperhatikan firman Allah (sebagai upaya menerima hikmat Allah) adalah penting dilakukan. Sebab, dengan hikmat yang berasal dari Allah, manusia akan mampu mengelola kerendahan hati yang dimilikinya. Kerendahan hati yang berlaku bagi semua orang, tidak hanya kepada yang bersikap baik kepada kita. Hal ini perlu menjadi perhatian kita bersama, supaya semangat ekumene, semangat membangun relasi yang saling menghidupkan dapat diupayakan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kerendahan hari, persaudaraan sejati akan tercipta di tengah kehidupan kita, baik dalam relasi keluarga, relasi pertemanan, relasi bisnis, relasi interdenominasi, relasi interfaith, bahkan juga relasi ekologis dengan seluruh ciptaan Allah.
Pertanyaan Untuk Didiskusikan
- Mengapa Salomo menganggap hikmat dan kebijaksanaan dari Allah sebagai yang utama dalam hidupnya dibandingkan dengan kekuatan, kekayaan, dan kejayaan?
- Mengapa bersikap rendah hati kepada orang yang rendah hati lebih mudah dilakukan? Jika masih bisa rendah hati kepada orang yang tinggi hati, hal apakah yang mendasarinya? Kiat-kiat seperti apakah yang perlu dikembangkan?
- Apakah sikap rendah hati memang merupakan dasar penting dalam mengembangkan persaudaraan sejati, baik dengan sesama manusia maupun dengan sesama ciptaan yang lainnya? Jelaskan dan berikan contohnya! [YSN].
Pemahaman Alkitab (PA) Oktober 2026 (II)
Bulan Ekumene
Bacaan: Yudas 1 : 17 – 25
Tema Liturgis: Merawat Persaudaraan Sejati
Tema PA: Hawa Nafsu Menggerus Persaudaraan Sejati
Pengantar
Dalam buku Saudari Bumi, Saudara Manusia, Freddy Buntaran mengatakan bahwa manusia adalah saudara muda dari seluruh ciptaan Allah yang ada. Manusia adalah anak ragil yang hadir di dunia setelah semua saudaranya ada. Sebagai saudara yang lebih tua, mereka memiliki tugas menjaga dan merawat adiknya, khususnya yang paling kecil. Hal itu dapat kita imajinasikan juga dalam kisah penciptaan, di mana manusia diciptakan terakhir ketika seluruh “instrument” yang mendukung kehidupannya sudah ada.
Sayangnya, sebagai ciptaan yang disebut paling baik karena serupa dengan gambar dan rupa Allah, justru manusialah yang melakukan “dosa” untuk pertama kalinya, bukan ciptaan yang lebih dahulu ada atau para “saudara tuanya.” Dalam narasi Taman Eden dikisahkan bahwa manusia diberi kehendak bebas, padanya diberikan keleluasaan untuk memilih, namun keleluasaan itu dipakai untuk memilih sesuatu yang dilarang Allah. Akibatnya, manusia mengalami kehancuran. Manusia “diusir” dari Taman Eden dan hidup menderita, karena laki-laki harus mengupayakan tanah secara mandiri dan perempuan akan merasakan sakit sewaktu melahirkan. Jadi, kehendak bebas (hawa nafsu) yang tidak terkendali menyebabkan “kematian”.
Penjelasan Teks
Yudas adalah saudara Yakobus dan Yesus, yang mempunyai keprihatinan atas kondisi jemaat, di mana banyak penyusup yang berusaha memecah belah kehidupan umat karena dorongan hawa nafsunya (Ay. 17-19). Karena itu, jemaat diminta agar selalu ingat perkataan para rasul. Dalam kondisi demikian, Yudas mengingatkan supaya jemaat selalu mendasari kehidupan mereka dengan iman yang suci dan senantiasa berdoa dalam tuntunan Roh Kudus (Ay. 20). Bagi Yudas, dengan senantiasa melibatkan tuntunan Roh Kudus, kehidupan jemaat akan senantiasa terpelihara. Hidup di dalam kasih Allah sembari menantikan rahmat Tuhan Yesus Kristus supaya mendapatkan kehidupan yang kekal (Ay. 21). Dengan kata lain, kasih menjadi penekanan utama sebagai dasar membangun kehidupan bersama liyan. Sebab, kasih adalah hakikat Allah yang telah mewujud nyata melalui kelahiran Yesus Kristus dan pemeliharaan Roh Kudus dalam kehidupan jemaat.
Kasih harus ditunjukan melalui kepedulian tanpa ragu dan bimbang. Kasih adalah “senjata” untuk menyelamatkan seseorang dari “api” (Ay. 22-23). Dengan rasa kepedulian tinggi kepada sesama yang berada di dekat api, banyak orang yang akan selamat. Selain itu, tindakan kasih dan kepedulian merupakan tanda kehidupan umat yang dituntun oleh Roh Kudus, sehingga kasih membenci segala keinginan-keinginan dosa, yaitu semua tindakan destruktif yang mendatangkan penderitaan bagi sesama.
Maka, sangat jelas pesan Yudas kepada jemaat, yaitu supaya mereka senantiasa hidup dalam tuntunan Roh Kudus dan hidup dalam kasih serta kepedulian kepada sesama yang ada di dekat mereka, bahkan di dalam api. Sebuah sikap dan tindakan yang bertolak belakang dengan yang dilakukan para penyusup, yang menekankan hawa nafsu duniawi, dan yang mengakibatkan potensi perpecahan di dalam tubuh jemaat. Sebuah hawa nafsu yang mengedepankan kepentingan dan keinginan diri pribadi. Jadi, melalui kasih dan kepedulian terhadap sesama, kehidupan, kedamaian, dan keselamatan akan dirasakan bersama.
Relevansi
Peristiwa bencana yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utama, dan Sumatera Barat pada akhir November 2026 tidak boleh hanya dilihat dari sekadar bencana alam biasa, melainkan juga sebagai bencana kemanusiaan, khususnya yang diakibatkan oleh keserakahan sekelompok orang tertentu. Adanya banyak kayu gelondongan yang terpotong rapi adalah bukti kuat dari bencana kemanusiaan tersebut. Siapakah pelakunya? Apakah pelakunya akan mendapatkan hukuman dari pemerintah karena telah menyebabkan banyak kerugian besar? Mengapa status kebencanaan terkesan lambat untuk diakui sebagai bencana nasional?
Tentu masih banyak lagi pertanyaan yang dapat kita sampaikan. Akan tetapi, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah mengapa mereka melakukan hal itu padahal dampak yang diakibatkan sangat buruk dan merugikan banyak orang? Melalui Yudas 1:17-25, kita belajar bahwa hawa nafsu yang tidak terkendali merupakan penyebab utama seseorang melakukan tindakan-tindakan yang merugikan kehidupan orang lain. Sebuah tindakan yang dapat merusak persekutuan ciptaan Allah. Merusak sebuah persekutuan, merusak sebuah patunggilan.
Oleh karena itu, upaya membangun ekumene, mewujudkan persaudaraan sejati, tidak boleh hanya dibatasi pada kehidupan manusia saja, melainkan juga dengan alam. Paradigma yang mengatakan bahwa alam diciptakan hanya untuk dimanfaatkan merupakan wujud nyata proses pengobjekan terhadap sesama ciptaan. Pengobjekan berarti menganggap yang lain sebagai kurang atau tidak penting, tidak berharga, dan tidak berguna. Realitas yang terjadi, manusia sangat membutuhkan keberadaan alam. Maka, persaudaraan sejati perlu dibangun dengan kesadaran dan kepedulian terhadap kondisi alam dan lingkungan, tidak hanya keberadaan sesama manusia saja. Sebuah kesadaran yang memandang alam sebagai “saudara tua” yang harus – dan sudah selayaknya – dihormati. Sebab, bumi dan segala isinya adalah ciptaan Allah, yang diciptakan dengan penuh kasih dan cinta. Oleh karena itu, tidak ada “subordinasi” dalam ciptaan Allah. Tidak ada yang lebih tinggi, maupun lebih rendah daripada yang lainnya. Allah menciptakan semuanya baik adanya. Dengan demikian, persaudaraan sejati akan mampu diwujudkan ketika hawa nafsu manusia tidak mendominasi kehidupan kita. Kita manusia tidak merasa sebagai ciptaan yang paling sempurna, tidak memiliki pemikiran subordinatif kepada sesama, baik manusia maupun alam dan semua ciptaan Allah.
Pertanyaan Untuk Didiskusikan
- Mengapa Petrus mengajarkan bahwa kasih adalah “senjata” melawan hawa nafsu? Apakah hawa nafsu adalah lawan dari kasih?
- Jika hawa nafsu dianggap sebagai sumber “perpecahan” dari persaudaraan sejati, apakah manusia tidak boleh hidup dengan hawa nafsu? Jika demikian, apakah semua hawa nafsu adalah negatif? Jika tidak, mohon diberikan contoh dan penjelasannya!
- Mengapa orang sulit mengendalikan hawa nafsunya? Hawa nafsu apa yang paling sulit dikendalikan dalam kehidupan kita? Faktor apa yang mendasarinya? [YSN].