Pemahaman Alkitab Nopember 2016

NOPEMBER I 2016

Bacaan: Ayub 23: 1-17
Tema   : Tetap Beriman Teguh Walau Berpeluh

Pengantar

Dewasa ini ada sebagian orang Kristen yang berpandangan bahwa Tuhan akan menganugerahkan kemakmuran dan kesehatan kepada setiap anak-Nya, lebih-lebih kepada yang beriman teguh. Mereka beranggapan bahwa orang Kristen yang beriman teguh tidak akan mengalami kesusahan, apalagi kemiskinan. Sehingga mereka yang masih saja mengalami penderitaan dan kemiskinan dianggap tidak teguh imannya.

Kitab Ayub membantah keyakinan ini. Ayub bukan saja kehilangan hartanya dan menjadi miskin, ia pun menderita sakit yang membuat kulitnya dipenuhi borok (ayat 7:5). Sungguh suatu penderitaan yang teramat besar!

Keterangan teks

Tidak henti-henti para sahabat Ayub menuduh Ayub telah berdosa kepada Allah sehingga Ayub menderita. Elifas, masih tetap teguh mendakwa Ayub melakukan perbuatan dosa dan meminta Ayub untuk bertobat (ayat 4-5). Namun, Ayub bersikukuh bahwa dirinya tidak berdosa. Ia dengan tegas menolak tudingan Elifas bahwa ia harus bertanggung jawab atas penderitaannya sebagai akibat dosanya. Meski demikian, Elifas kembali memulai serangkaian tuduhan yang tidak mendasar. Ia memfitnah Ayub dengan sejumlah dakwaan palsu (ayat 6-9). Elifas menuduh Ayub telah melakukan berbagai dosa sosial yang menyengsarakan sesamanya. Menurut Elifas, dosa sosial itulah yang menyebabkan Ayub menderita karena Allah membalas perbuatan jahatnya itu (ayat 10-20). Oleh karena itu, Elifas meminta Ayub mengakui segala dosanya itu supaya melunakkan hati Allah sehingga Allah akan memulihkan kembali keadaan dirinya (ayat 21-30).

Tuduhan-tuduhan ini bertolak belakang dengan komentar penutur kisah bahkan evalusi Allah sendiri di pasal 1. Ayub seorang yang saleh, jujur, takut akan Tuhan, dan menjauhi kejahatan. Dengan demikian, kita tahu bahwa tuduhan Elifas itu palsu.

Ayub sepertinya tidak tahu harus bagaimana lagi menjawab dakwaan Elifas. Ia merasa tidak ada gunanya berbantah-bantah lagi dengan sahabatnya itu, yang tidak lagi mendukungnya. Oleh karena itu, Ayub mengarahkan pengharapannya kepada Allah. Ayub mengharapkan Allah bersedia mendengarkan pembelaan dirinya, bahkan berkenan pula menjawabnya (ayat 3-7). Ayub yakin bahwa ia tidak bersalah. Ayub juga yakin kalau Allah memeriksanya, maka Allah pun akan menemukan demikian (ayat 10-12). Persoalan yang muncul di sini adalah bahwa Ayub meragukan dapatkah ia bertemu dengan Allah (ayat 8-9)? Apakah Allah mau menerima semua pertanyaannya? Kalau Allah memang sudah menetapkan bahwa ia patut menerima dan mengalami penderitaan itu, apakah mungkin Allah mau berubah pikiran (ayat 13-17)? Mungkinkah Allah menjadi pembelanya? Berbagai pikiran dan harapan itu berkecamuk menyedot Ayub ke dalam pusaran kecemasan.

Bergumul dengan penderitaan baik secara fisik maupun rohani memang tidak mudah. Penderitaan ini bertambah berat kalau orang-orang terdekat tidak bersimpati dengan penderitaan kita, malahan melontarkan berbagai gosip dan fitnah yang salah. Apalagi kalau yang tidak bersimpati itu adalah keluarga sendiri.

Saat Anda merasa sendiri di tengah penderitaan, lebih baik Anda mencari Allah sebagai pembela. Meskipun mungkin Anda sempat meragukan kesediaan Allah membela, ingatlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan Anda.

Dalam menghadapi penderitaan, kita bisa memilih untuk melakukan kedua hal ini. Pertama, mendekatkan diri kepada Tuhan, atau, kedua, menjauhkan diri dari-Nya. Mendekatkan diri kepada-Nya tidaklah berarti bahwa kita sudah dapat menerima semua penderitaan ini. Mendekatkan diri kepada Tuhan berarti kita membawa semua kepedihan, kebingungan, dan kekecewaan ini kepada-Nya. Dalam ketidakmengertian tentang penderitaan yang dialaminya, Ayub tidak lari dari Tuhan, justru sebaliknya, ia mendekatkan dirinya kepada Tuhan.

Pertanyaan untuk dipergumulkan:

  1. Apakah reaksi kita dalam mengalami penderitaan?
  2. Bagaimanakah sikap kita ketika mendapat tuduhan atau anggapan negatif dari orang lain terhadap penderitaan kita?
  3. Bagaimanakah sebaiknya sikap kita terhadap orang lain yang sedang mengalami penderitaan? Jelaskan secara konkrit!

 

Pdt. Suko Tiyarno.

NOPEMBER II 2016

 

Bacaan : Yohanes 5: 19-29
Tema   : Tetap Beriman Teguh Walau Berpeluh

Bagian dari perikop ini berlatar belakang tuduhan orang Yahudi kepada Yesus melanggar hukum Sabat (5: 1-18). Penjelasan atau pembelaan Yesus tentang tindakanNya tidak diterima oleh mereka. Mereka malah makin marah kepadaNya, ketika mereka mendengar Yesus memposisikan diriNya setara dengan Allah.

Namun demikian, Yesus tidak berhenti berbicara. Dia mempertegas dan memperjelas kesetaraanNya dengan Allah. Itulah yang disaksikan dalam bagian perikop ini.

Dia mengatakan (dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari): “Percayalah, Anak tidak dapat melakukan apa-apa dengan kuasa sendiri. Ia hanya melakukan apa yang Ia lihat dilakukan oleh Bapa-Nya. Sebab apa yang dilakukan oleh Bapa, itu juga yang dilakukan oleh Anak.”

Itu menunjukkan ketaatanNya kepada kehendak dan kebijaksanaan Bapa. Karena  ketaatanNya kepada Bapa itu, Dia tidak dapat mengerjakan sesuatu atas kemauanNya sendiri. Walaupun pekerjaan yang dilakukanNya itu cukup meleahkan karena ditolak dan dikritik habis-habisan oleh hamba-hamba Allah (orang Yahudi), pekerjaan itu tetap dilakukanNya. Pekerjaan yang ditunjukkan Bapa itu harus tetap dilakukanNya. Bahkan Dia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi, yang ditunjukkan Bapa kepadaNya, walaupun mereka jadi heran dan makin menolakNya.

Pekerjaan-pekerjaan itu tetap dilakukanNya, walaupun ditolak oleh mereka dan karenanya akan melelahkan, karena Bapa mengasihiNya (ay. 20). Kasih Bapa itulah dasar dari pekerjaan yang dilakukanNya. Karena kasihNya, Bapa menunjukkan kepada Anak segala sesuatu yang harus dikerjakanNya. Dia melakukan pekerjaan-pekerjaan istimewa, yang hanya Bapa yang berdaula melakukannya.

Dia menghidupkan orang mati dan memberikan hidup kekal kepada semua orang yang mendengarkan suaraNya. Bapa tidak menghakimi, karena kuasa penghakiman dan penghukuman diserahkan kepada Anak. Bapa mempunyai hidup di dalam diriNya, begitu pula Anak mempunyainya sehingga Dia hidup kembali dari kematian.

Siapakah orang mati yang mendengar suara Anak Allah sehingga bangkit untuk hidup yang kekal itu (ay. 29)?

  1. Secara rohani, orang-orang berdosa sudah mati. Mereka miskin dalam kehidupan, indra, kekuatan, dan pergerakan rohani. Mereka mati dalam hubungan dengan Allah, sengsara, namun tidak menyadari kesengsaraan mereka dan tidak mampu menolong diri sendiri untuk bisa keluar dari situ.
  2. Pertobatan seseorang kepada Allah merupakan kebangkitan dari kematian kepada kehidupan. Setelah itu, jiwanya mulai hidup saat ia mulai hidup bagi Allah, bernafas dengan-Nya, dan bergerak menuju Dia.
  3. Melalui suara Anak Allah sajalah jiwa-jiwa dibangkitkan untuk mengalami kehidupan rohani. Hal ini terjadi melalui kuasa-Nya, dan kuasa itu disampaikan melalui perkataan-Nya: Orang-orang mati akan mendengar, akan dibuat supaya bisa mendengar, mengerti, menerima, dan mempercayai suara Anak Allah, untuk mendengar suara itu sebagai suara-Nya sendiri. Setelah itu Roh memberinya hidup, sebab (hukum) yang tertulis mematikan.
  4. Suara Kristus harus didengar oleh kita supaya kita bisa hidup olehnya. Mereka yang mendengar dan memperhatikan apa yang mereka dengar, akan hidup. Dengarkanlah, maka kamu akan hidup (Yes. 55:3).

Demikianlah Yesus tidak mengurangi pekerjaan-pekerjaanNya, walaupun dikritik oleh banyak orang. Dia akan terus melanjutkan segala pekerjaanNya sampai tuntas. Dia tidak menyembunyikan identitas diriNya, walaupun diprotes oleh banyak orang. Dia bahkan menyaksikan, menjelaskan lebih luas tentang identitas diriNya itu.

Pertanyaan untuk dipergumulkan:

  1. Bagaimanakah biasanya sikap orang jika pekerjaannya dikritik oleh orang lain?
  2. Bagaimanakah biasanya sikap orang jika identitas dirinya diragukan atau diprotes oleh orang lain?
  3. Bagaimanakah seharusnya sikap kita jika pekerjaan kita dikritik dan identitas kita diragukan atau diprotes oleh orang lain?

 

Pdt. Suko Tiyarno.

Bagikan Entri Ini: